Suara Kritis dan Ancaman yang Menyusul
Belakangan ini, ruang publik diramaikan bukan cuma oleh perdebatan soal penanganan bencana di Sumatra, tapi juga oleh gelombang teror yang dialami sejumlah figur. Mereka yang vokal mengkritik, mulai dari artis hingga aktivis, tiba-tiba harus berhadapan dengan ancaman yang mengerikan. Rentetan kejadian ini terjadi dalam waktu singkat, cuma tiga hari di penghujung tahun 2025.
Di sisi lain, pola ancamannya beragam. Ada yang lewat dunia maya, tak sedikit pula yang merambah ke ruang nyata. Semuanya punya satu benang merah: terjadi setelah mereka bersuara.
Yama Carlos dan Orderan Fiktif
Aktor Yama Carlos termasuk yang paling awal bersuara. Lewat sebuah video sindiran, dia menyoroti penanganan pasca-bencana. Tak lama, teror pun datang. Bukan langsung ke dia, tapi menyasar ibu seorang temannya. Ponsel sang ibu diretas, nomornya dicuri. Pelaku meminta dua belas konten Yama dihapus sebagai tebusan.
"Ibunya teman saya kena teror dan HP-nya di-hack. Nomornya diambil, lalu si pelaku ini menyuruh teman saya untuk menghapus 12 konten, kalau mau nomor ibunya kembali lagi. Video sudah saya take down dan langsung nomor ibunya dikembalikan saat itu juga," jelas Yama.
Masalahnya tak berhenti di situ. Yama kemudian kebanjiran orderan barang COD fiktif dengan nominal besar, yang mengatasnamakan istrinya. Kiriman itu terus berdatangan. Frustasi, dia akhirnya angkat bicara lebih tegas.
"Dan jika teror barang COD ini tidak berhenti juga menyasar saya dan istri saya, saya mohon izin kepada terduga pelaku untuk menindaklanjuti ini langsung ke ranah hukum," tegasnya.
Sherly Annavita dan Telur Busuk
Cerita serupa datang dari influencer Sherly Annavita. Setelah mengkritik penanganan bencana khususnya di Aceh, rumahnya jadi sasaran. Pagi itu, dia menemukan pecahan telur busuk berceceran di depan pintu. Mobilnya dicoret-coret dengan pilok merah. Lalu ada gulungan kertas misterius.
"Sherly juga mendapati gulungan kertas, tapi Sherly belum buka isinya apa," ujarnya kala itu.
Ternyata, gulungan itu berisi tiga lembar kertas. Isinya pesan ancaman dan salinan identitas dirinya. Pesannya ditulis dalam bahasa Indonesia dan Aceh, memintanya untuk tidak "meremehkan musibah di Aceh" atau mencari popularitas murahan. Di media sosial, DM-nya juga penuh dengan hinaan bernada kasar. Semuanya terjadi beruntun.
DJ Donny: Dari Bangkai Ayam hingga Bom Molotov
Lalu ada DJ Donny. Suaranya yang lantang berbalas ancaman yang eskalasinya mencemaskan. Pertama, istrinya menerima paket plastik berisi bangkai ayam plus pesan ancaman. Itu terjadi hari Senin.
Rabunya, situasi jadi lebih mencekam. Rekaman CCTV menangkap aksi dua pemuda melemparkan bom molotov ke arah rumahnya. Beruntung tidak meledak. Guncang oleh dua kejadian itu, Donny memutuskan untuk segera melaporkan semuanya ke Mapolda Metro Jaya.
Iqbal Damanik dan Pesan di Kaki Ayam
Korban teror lainnya adalah Iqbal Damanik, seorang manajer kampanye Greenpeace Indonesia. Pada Selasa pagi, bangkai ayam tanpa bungkus tergeletak di teras rumahnya. Di kaki ayam itu, tergulung kertas dengan pesan mengancam: "JAGALAH UCAPANMU APABILA ANDA INGIN MENJAGA KELUARGAMU, MULUTMU HARIMAUMU".
Bagi Iqbal, ancaman semacam ini bukan hal baru. Sebelumnya, kolom media sosialnya kerap dipenuhi komentar kasar dan pesan ancaman, semua karena kritik-kritiknya terhadap kebijakan pemerintah.
Menurut sejumlah saksi, rentetan peristiwa ini menimbulkan pertanyaan besar. Iklim kebebasan berekspresi seakan diuji oleh teror yang sistematis. Yang jelas, para tokoh ini kini harus berhadapan bukan hanya dengan persoalan bencana, tapi juga dengan rasa takut yang diantarkan ke depan pintu rumah mereka.
Artikel Terkait
Rekomendasi Drama Korea Bergaya Sejarah untuk Temani Waktu Ngabuburit
Warganet Duga Hubungan Davina dan Ardhito Bagian dari Manajemen Isu
Lnw Fashion Akhiri Endorsement Inara Rusli Usai Protes Netizen
Richard Lee Diperiksa 12 Jam sebagai Tersangka Pelanggaran Perlindungan Konsumen