Epy Kusnandar: Mengalahkan Vonis Empat Bulan, Bertahan Satu Dekade

- Kamis, 04 Desember 2025 | 12:20 WIB
Epy Kusnandar: Mengalahkan Vonis Empat Bulan, Bertahan Satu Dekade

Perjuangan Epy Kusnandar: Melampaui Batas Waktu yang Diberikan

Pada Rabu siang, tepatnya pukul 14.24 WIB, dunia hiburan Indonesia kehilangan salah satu sosoknya. Epy Kusnandar menghembuskan napas terakhir di RS PON Jakarta. Kabar duka ini tentu menyisakan luka bagi keluarga dan penggemarnya.

Menurut penjelasan pihak keluarga, kondisi Epy memang sudah sangat kritis. Organ-organ vitalnya tak lagi berfungsi dengan baik, ditambah adanya penyumbatan di pembuluh darah batang otak. Situasi ini membuatnya berada dalam fase semi-koma, dengan tekanan darah yang terus meninggi dan sulit dikendalikan. Tim dokter pun merasa tak mungkin melakukan operasi dengan kondisi seberat itu.

Segala upaya sudah dilakukan. Rumah sakit memberikan bantuan oksigen dan serangkaian obat untuk mencoba meningkatkan kesadarannya. Sayangnya, kondisinya justru terus merosot. Perlahan, hingga akhirnya ia berpulang.

Kepergiannya mengingatkan banyak orang pada perjuangan panjang yang pernah dilakoninya. Dulu, saat usianya baru menginjak 51 tahun, Epy mendapat vonis yang menghantam: kanker stadium 4. Dokter saat itu memprediksi ia hanya punya sisa waktu empat bulan untuk hidup.

Tapi, prediksi itu tidak mematahkan semangatnya. Justru sebaliknya.

“Setiap tahun saya mengingat momen itu. Dari usia 52 ke 53, terus ke 54, saya pikir, 'Apakah saya masih ada?' gitu,” kenang Epy dalam suatu pertemuan di Kuningan, Jakarta Selatan, pertengahan tahun 2025 lalu.

“Sekarang sudah 61, dan saya sadar umur itu sebenarnya berkurang, bukan bertambah,” sambungnya dengan bijak.

Vonis itu malah ia jadikan cambuk. Epy berjuang mati-matian melawan penyakitnya, dan akhirnya dinyatakan sembuh. Ia berhasil mengalahkan ramalan singkat itu, menjalani hidup bertahun-tahun setelahnya.

Namun begitu, perjalanan hidupnya tak sepenuhnya mulus. Di usia senja, pria yang akrab lewat perannya di "Preman Pensiun" itu mulai dihantam stroke. Gejalanya muncul perlahan, dimulai dari sisi kiri tubuhnya. Meski begitu, semangatnya untuk terus berkarya dan menikmati hidup tak pernah padam. Ia tetap tegar, hingga akhirnya tutup usia di umur 61 tahun.

Kisahnya adalah bukti nyata tentang semangat hidup yang luar biasa. Sebuah pengingat bahwa batas waktu manusia kadang bisa dilampaui dengan tekad dan keberanian.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar