Ferry Maryadi dan Kenangan yang Tak Tergantikan untuk Gary Iskak

- Selasa, 02 Desember 2025 | 19:20 WIB
Ferry Maryadi dan Kenangan yang Tak Tergantikan untuk Gary Iskak

Haru dan Kerinduan yang Dalam dari Ferry Maryadi untuk Gary Iskak

Dunia hiburan Indonesia masih berduka. Suasana haru itu kembali terasa ketika Ferry Maryadi membuka hati tentang kepergian sahabat karibnya, Gary Iskak. Aktor yang meninggal dalam kecelakaan tunggal Sabtu lalu itu, rupanya meninggalkan luka yang dalam bagi Ferry.

Di sebuah program televisi, Ferry tak bisa menyembunyikan isi hatinya. Kerinduannya terpancar jelas. Bagi dia, Gary bukan cuma teman satu proyek. Lebih dari itu. Dia adalah sosok yang hadir di berbagai babak kehidupan Ferry, memberi warna pada jalan karier bahkan urusan spiritual.

Menurut sejumlah saksi, pengaruh Gary terhadap lingkungannya memang besar. Kehangatannya selalu dikenang. Ferry pun membagi beberapa kenangan yang kini justru membuat ruang kosong itu terasa lebih luas.

Kedekatan mereka berawal dari sebuah sinetron. Sejak itulah, hubungan yang awalnya profesional berubah jadi persahabatan yang akrab. Mereka bahkan kerap jalan-jalan ke luar kota berdua.

"Iya dia sangat menyenangkan, ceria sudah pasti, dan dia selalu membawa sebuah kebahagiaan ketika kita bareng. Gua pernah satu sinetron dulu tahun 2014. Itu musuh bebuyutan lah, tapi bersahabat. Kita syuting waktu itu hampir satu setengah tahun. Setiap hari ketemu, setiap hari makan bareng, setiap hari alhamdulillah beribadah bareng. Jadi, di saat kita sudah capek di lokasi, di set, udah tengah malem, adanya dia tuh yang bisa mencairkan suasana. Jadi sosok yang sangat ditunggulah sama kita semua," kenang Ferry (2/12).

Tak cuma soal canda, Ferry juga belajar banyak dari Gary. Belajar tentang ketenangan, tentang makna ibadah yang lebih dalam.

"Saya juga banyak belajar dari Gary soal ibadah, bahwa tidak menutup mata kalau Gary makin ke sini tuh makin terlihat bahwa dia memang seseorang yang, inshallah, hijrah," tambahnya.

Di sisi lain, mereka punya satu hobi yang menyatukan: otomotif. Ini yang bikin hubungan mereka makin erat. Mereka sering ngobrol, bikin rencana-rencana kecil yang sayangnya sekarang cuma jadi angan.

"Kita tuh punya janji, atau omongan lah, 'Kita riding yuk berdua, ya seputaran keliling Jawa Barat ajalah, berdua'," cerita Ferry Maryadi.

Kerinduan itu nyata. Terutama saat Ferry menceritakan momen-momen receh yang dulu biasa saja, sekarang jadi sesuatu yang sangat dirindukan.

"Kangen sih masa-masa itu, masa-masa berdua sama Gary bercanda-bercandaan. Biasanya kalau kita udah berdua, yang lain suka bilang 'Gary-Ferry, Gary-Ferry' gitu. Kangenlah sama Gary," akunya dengan suara lirih.

Lalu, apa yang ingin Ferry sampaikan seandainya bisa bertemu Gary sekali lagi? Dia terdiam cukup lama. Pikirannya melayang.

"Mungkin nggak bisa ngomong ya, cuma pengen peluk aja. Kedengarannya aneh, laki-laki sama laki-laki punya hubungan yang susah dijelaskan dengan kata-kata, tapi saya sama Gary begitu," ungkapnya.

Di akhir percakapan, Ferry merenung. Renungan tentang hidup dan kepergian yang datang tiba-tiba.

"Buat saya, maut itu tidak harus sakit, apalagi tua. Kapan pun kita harus siap kembali ke Allah. Seperti di bandara, kita lagi duduk, nunggu pesawat, tiba-tiba ada panggilan. Mau nggak mau kalau udah dipanggil kita nggak mungkin nolak," pungkasnya. Kata-kata terakhir yang menghentak, sekaligus mengingatkan kita semua.

Editor: Novita Rachma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar