JF3 Gelar Kompetisi Desainer Muda demi Cari Penerus Industri Fesyen

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 19:12 WIB
JF3 Gelar Kompetisi Desainer Muda demi Cari Penerus Industri Fesyen

Kekhawatiran akan minimnya regenerasi desainer mendorong JF3 Fashion Festival menginisiasi kompetisi Future Fashion Designer (FFD). Ajang ini tidak sekadar mencari ide, melainkan menguji kemampuan eksekusi dari nol hingga jadi karya utuh.

Thresia Mareta, Advisor JF3 sekaligus pendiri Lakon Indonesia, mengamati jumlah brand fesyen yang ditemuinya menurun dari sekitar 200 menjadi 150. Kondisi itu menjadi sinyal bahwa industri fesyen Indonesia membutuhkan generasi penerus. “JF3 sudah berjalan selama 22 tahun. Tahun ini kami melihat ada satu kekhawatiran soal generasi desainer berikutnya. Kelihatannya memang dibutuhkan desainer yang mampu mengeksekusi sebuah ide menjadi suatu kenyataan (karya),” ujarnya.

Berangkat dari kekhawatiran itu, JF3 menggandeng Susan Budihardjo Fashion Forward Institute sebagai mitra. “Kami memerlukan seseorang yang tidak hanya dapat sharing ideation, tetapi juga eksekutor yang sangat baik. Jadi kami memilih Susan Budihardjo Fashion Forward Institute,” kata Thresia.

Lima Tantangan dengan Waktu dan Budget Terbatas

Kompetisi berlangsung selama dua minggu, 12–26 Mei 2026, dengan lima finalis. Mereka harus menyelesaikan lima koleksi bertema berbeda: Prototype, The Curve, Re’Heritage, Multifunction, dan Opposite. Selain tema, mereka juga dihadapkan pada keterbatasan waktu dan anggaran. “Mereka mendapat uang belanja Rp 500 ribu untuk membuat satu tampilan. Mereka dibawa ke toko Tanah Abang, bukan toko keren-keren,” ujar Susan Budihardjo.

Tak dimungkiri, rasa lelah menghampiri para finalis. “Jadi ada drama juga; ada yang nangis; ada yang stres,” cerita Susan. Namun, desainer aksesori Rinaldy A. Yunardi yang menjadi juri mengaku bangga. “Aku menghargai bagaimana cara mereka bekerja yang selalu siap dan menunjukkan karyanya,” ungkapnya.

12 Juri dari Berbagai Bidang

FFD menghadirkan 12 juri yang mewakili industri fesyen, termasuk Thresia Mareta, Susan Budihardjo, Rinaldy A. Yunardi, Hian Tjen, Caren Delano, Sofie, Yongki Komaladi, Sarie Febriane, Didi Budiardjo, Richard Hartono, Ary Juwono, dan Djafar. Para juri datang sekitar empat hingga lima jam sebelum karya selesai untuk memberi komentar. “Jadi dalam waktu singkat itu mereka mendengar masukan dari orang lain. Hal tersebut menguji mereka bagaimana bisa mengatur waktu, kemudian ada komentar dari juri tentang apa yang harus mereka wujudkan agar hasilnya menjadi lebih baik,” ungkap Susan.

Hian Tjen, salah satu juri, memberikan masukan tentang bagaimana hasil rancangan terlihat saat dikenakan. “Aku kasih mereka komentar, tapi balik lagi ke mereka sendiri seperti apa koleksi yang mereka pikirkan,” ujarnya.

Pemenang FFD 2026

Dari lima finalis, hanya satu yang keluar sebagai juara: Arron Bryan, desainer muda asal Jayapura. Dewan juri menilai Arron konsisten sejak tantangan pertama hingga final. Koleksinya menerjemahkan budaya Papua ke dalam harmoni desain kontemporer. “Challenge terberat aku itu dari segi desain dan waktu. Jadi bagaimana kita membuat desain yang pantas kita tampilkan ke juri dengan waktu yang cuma dua hari atau bahkan satu setengah hari untuk mengeksekusi sebuah karya,” cerita Arron.

Selain hadiah uang tunai Rp 50 juta, Arron mengaku mendapatkan pengalaman berharga: bertemu para profesional dan mendapat teman baru. Seluruh finalis FFD juga akan menampilkan karya mereka di panggung JF3 Fashion Festival 2026, berdampingan dengan karya desainer Indonesia dan internasional.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags