Dosen Psikologi Ungkap Tanda Halus Kekerasan dalam Hubungan yang Sering Tidak Disadari Korban

- Sabtu, 27 Juni 2026 | 04:15 WIB
Dosen Psikologi Ungkap Tanda Halus Kekerasan dalam Hubungan yang Sering Tidak Disadari Korban

Hubungan asmara semestinya menjadi ruang aman bagi kedua pihak. Namun, kenyataannya, tidak sedikit orang yang tanpa sadar terperangkap dalam abusive relationship hubungan yang diwarnai kekerasan. Dosen Psikologi Universitas Islam Bandung, Stephani Raihana Hamdan, mengungkapkan bahwa kekerasan dalam hubungan tak selalu tampak dalam bentuk fisik yang terjadi setiap hari. Justru, pola yang berulang dan halus sering membuat korban sulit menyadari bahwa dirinya berada dalam situasi yang tidak sehat.

Salah satu tanda paling umum, menurut Stephani, adalah adanya siklus kekerasan. Hubungan biasanya diawali dengan masa-masa romantis atau honeymoon phase, lalu diikuti pertengkaran dan kekerasan. Setelah itu, pelaku meminta maaf dan kembali bersikap penuh kasih sayang. “Tapi biasanya ada fase rekonsiliasi, pelaku meminta maaf dan hubungan kembali ke fase honeymoon. Karena itu korban sering memilih bertahan,” ujarnya kepada iNews.id, belum lama ini.

Kekerasan dalam hubungan, kata Stephani, meningkat secara perlahan. Korban mungkin awalnya hanya menerima perlakuan kasar ringan, tetapi seiring waktu bentuk kekerasan menjadi semakin serius. Kondisi ini sering membuat korban kehilangan kemampuan untuk melihat hubungan secara objektif karena masih berharap pasangannya benar-benar berubah.

Stephani juga mengungkap sejumlah karakter yang membuat seseorang lebih rentan menjadi korban abusive relationship. Salah satunya adalah memiliki ketergantungan emosional yang tinggi terhadap pasangan. Korban yang merasa tidak bisa hidup tanpa pasangan cenderung lebih mudah dimanipulasi, terlebih jika memiliki rasa tidak percaya diri atau insecure. Di sisi lain, pelaku abusive relationship umumnya bersifat sangat dominan, agresif, dan berusaha mengontrol kehidupan pasangannya. “Ketika seseorang sangat bergantung kepada pasangannya lalu bertemu pasangan yang dominan, agresif, dan controlling, maka risikonya lebih besar masuk ke dalam hubungan yang tidak sehat,” jelas Stephani.

Meski demikian, ia mengingatkan bahwa penjelasan tersebut merupakan gambaran berdasarkan konsep psikologi dan hasil penelitian mengenai abusive relationship. Analisis itu tidak dimaksudkan sebagai kesimpulan terhadap kasus penyekapan dan penganiayaan yang saat ini viral dan masih dalam proses hukum. Stephani berharap masyarakat semakin memahami tanda-tanda hubungan yang tidak sehat sehingga dapat mencari bantuan sejak dini sebelum kekerasan berkembang menjadi lebih parah.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags