Niat Puasa Tasua dan Asyura Bisa Diucapkan Pagi Hari, Ini Penjelasan Ulama

- Rabu, 24 Juni 2026 | 03:40 WIB
Niat Puasa Tasua dan Asyura Bisa Diucapkan Pagi Hari, Ini Penjelasan Ulama

Bagi umat Islam yang lupa melafalkan niat Puasa Tasua dan Asyura pada malam hari, tidak perlu khawatir. Berbeda dengan puasa wajib, niat untuk kedua puasa sunnah di bulan Muharram ini ternyata tetap sah jika diucapkan pada pagi hari, selama yang bersangkutan belum makan atau minum.

Puasa Tasua yang jatuh pada 9 Muharram dikerjakan sehari sebelum Puasa Asyura di tanggal 10 Muharram. Tujuan utamanya adalah untuk membedakan diri dari tradisi kaum Yahudi. Adapun Puasa Asyura memiliki keutamaan yang sangat masyhur, yakni dapat menghapus dosa selama setahun yang lalu, sebagaimana disebutkan dalam hadits riwayat Muslim.

Lantas, bagaimana hukumnya jika seseorang baru berniat di pagi hari karena lupa? Ustadz Isnan Anshory MA dari Rumah Fiqih Indonesia menjelaskan, dalam fiqih, niat untuk puasa wajib harus sudah terpasang sejak malam hari, paling akhir ketika fajar hampir terbit. Namun, para ulama sepakat bahwa ketentuan tersebut tidak berlaku untuk puasa sunnah.

“Untuk puasa yang bukan fardhu atau puasa sunnah, para ulama sepakat tidak mensyaratkan niat sebelum terbit fajar. Jadi boleh berniat puasa meski telah siang hari asal belum makan, minum atau mengerjakan sesuatu yang membatalkan puasa,” jelas Ustadz Isnan.

Ketentuan ini merujuk pada sebuah hadits dari Aisyah radhiyallahu anha. Suatu hari, Rasulullah SAW masuk ke rumah dan bertanya apakah ada makanan. Saat dijawab tidak ada, beliau pun spontan berniat untuk berpuasa. Para ulama menyimpulkan bahwa puasa yang dimaksud dalam hadits tersebut adalah puasa sunnah, bukan puasa wajib. Sebab, jika itu adalah puasa wajib, tentu Rasulullah tidak akan datang ke rumah istrinya di siang hari dengan niat hendak makan.

Terkait lafaz niat, para ulama sepakat bahwa melafalkannya hukumnya sunnah, dengan syarat harus selaras dengan niat yang ada di dalam hati. Berikut adalah lafaz niat untuk kedua puasa tersebut:

Niat Puasa Tasua: “Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnatit Tasu‘a lillahi ta‘ala.” Artinya, “Aku berniat puasa sunah Tasu’a pada hari ini karena Allah SWT.”

Niat Puasa Asyura: “Nawaitu shauma hadzal yaumi ‘an ada’i sunnatit Asyura lillahi ta‘ala.” Artinya, “Aku berniat puasa sunah Asyura pada hari ini karena Allah SWT.”

Keutamaan Puasa Tasua dan Asyura

Selain dapat menghapus dosa setahun, terdapat sejumlah keutamaan lain dari menjalankan puasa di bulan Muharram ini.

Pertama, puasa di bulan Muharram disebut sebagai sebaik-baik puasa setelah Ramadhan. Dalam sebuah hadits riwayat Muslim, Rasulullah SAW bersabda, “Sebaik-baik puasa setelah Ramadlan adalah puasa di bulan Allah, bulan Muharram.” Imam An Nawawi dalam Syarah Shahih Muslim menegaskan bahwa hadits ini menunjukkan kemuliaan bulan Muharram untuk melaksanakan puasa sunnah.

Kedua, puasa ini merupakan bentuk mengikuti sunnah Nabi. Ketika tiba di Madinah, Rasulullah SAW melihat orang-orang Yahudi berpuasa pada hari Asyura. Mereka menjelaskan bahwa hari itu adalah hari agung di mana Allah menyelamatkan Nabi Musa dari kejaran Fir’aun, dan Musa pun berpuasa sebagai bentuk syukur. Mendengar itu, Rasulullah SAW bersabda, “Kami (kaum muslimin) lebih layak menghormati Musa dari pada kalian.” Beliau kemudian berpuasa dan memerintahkan para sahabat untuk turut serta.

Ketiga, puasa ini dianjurkan untuk menyelisihi kaum Yahudi. Karena umat Yahudi juga berpuasa pada tanggal 10 Muharram, umat Islam dianjurkan untuk menambahkan puasa sehari sebelumnya (Tasua) atau sehari setelahnya. Hal ini berdasarkan hadits riwayat Imam Ahmad yang menyebutkan, “Selisihilah orang Yahudi dan berpuasalah sehari sebelum dan setelahnya.”

Editor: Lia Putri

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar