Menjelang azan Magrib berkumandang, suasana di Jalan Kramat, Senen, berubah total. Kawasan ini mendadak ramai oleh warga yang punya satu misi: berburu takjil untuk berbuka. Dan bukan sembarang takjil, melainkan kuliner khas Minang yang aromanya sudah tercium dari jauh, memanggil-manggil.
Wangi rempah yang gurih dan pedas itu seolah menjadi penuntun. Deretan gerai nasi kapau berjejer, masing-masing dikerubungi pembeli. Antrean? Sudah jadi pemandangan biasa. Semua rela menunggu demi sepiring hidangan lezat setelah seharian menahan lapar dan dahaga.
Pilihannya memang menggiurkan. Mata bisa langsung jelalatan melihat aneka lauk yang tertata rapi. Ada telur ikan berwarna kecokelatan, udang hijau yang segar, atau dendeng batokok lado merah yang mengilat. Jangan lupa tambusu, kikil, dan tunjang semuanya siap memanjakan lidah.
“Di sini jual berbagai menu khas Minang, seperti telur ikan, udang hijau, dendeng batokok lado merah, ada tambusu favorit, juga kikil dan tunjang,”
Kata Rohim, salah seorang yang bekerja di gerai nasi kapau itu. Suaranya harus sedikit ditinggi untuk menembus keriuhan sekitar.
Kalau belum mau yang berat, kudapan seperti lemang tapai atau bubur kampiun juga tersedia. Menurut Rohim, beberapa menu jadi primadona khusus bulan puasa.
“Kalau di sini biasanya yang dicari bubur kampiun, tambusu, tunjang, sama kepala kakap,”
Artikel Terkait
Selebgram Clara Shinta Minta Maaf Publik Soal Keretakan Rumah Tangga
dr. Tirta Ingatkan Ejakulasi Rutin Bisa Kurangi Risiko Kanker Prostat, Tapi dengan Frekuensi Tepat
Batas Akhir Puasa Syawal 2026: 17 atau 18 April Bergantung Penetapan Awal Bulan
dr. Tirta Tegaskan Ejakulasi Rutin Bermanfaat, Tapi Bukan Berarti Setiap Saat