Game Online Picu Gangguan Jiwa, RS Grhasia Tangani Pasien Anak

- Senin, 05 Januari 2026 | 20:54 WIB
Game Online Picu Gangguan Jiwa, RS Grhasia Tangani Pasien Anak

Kasus gangguan mental gara-gara game online itu nyata, lho. Di RS Jiwa Grhasia Yogyakarta saja, sudah ada beberapa anak yang jadi korbannya. Miris, ya?

Menurut Direktur RS Jiwa Grhasia, dr Akhmad Akhadi, rumah sakitnya memang menangani pasien dengan masalah kejiwaan yang dipicu kecanduan gadget, terutama game online.

"Ada beberapa kasus gangguan diakibatkan kecanduan, kecanduan gadget gitu," ujar Akhmad saat ditemui di kantornya, Senin (5/1).
"Gadget itu termasuk di dalamnya pinjol. Yang di kita itu bukan pinjol sebetulnya, game online. Makanya yang di anak-anak itu game online," tuturnya lagi.

Sayangnya, dia belum mau merinci berapa tepatnya jumlah kasus serupa yang sudah ditangani di rumah sakit milik Pemda DIY tersebut.

Lalu, apa sih hubungannya game online dengan kesehatan mental anak? Kok bisa separah itu?

Akhmad menjelaskannya lewat konsep kecanduan atau addiction.

"Jadi saya menjawabnya dengan definisi addict atau kecanduan. Jadi addict itu kecanduan itu ketika kita itu terus-menerus melakukan sebuah aktivitas, ya toh. Baik tiada henti, ataupun dengan berhenti, yang kemudian apabila kita tidak melakukan itu mengakibatkan gangguan perilaku gitu," katanya.

Dampaknya jelas. Anak yang kecanduan bisa mudah tantrum. Yang lebih mengkhawatirkan, karakter dari dalam game itu seolah-olah hidup dan melekat pada diri si anak.

"Terus kemudian dia tokoh di dalam game online itu masuk ke dalam dirinya, dia memerankan itu loh jadi kayak jadi karakter," jelas Akhmad.

Nah, soal penyembuhan, prosesnya nggak instan. Akhmad menekankan bahwa penanganannya harus komprehensif.

"Jadi kita punya data penyembuhan gangguan mental itu ya lebih dari lima hari, kita upayakan kurang dari 28 hari," ungkapnya.
"Setelah itu juga harus kemudian terapinya dilanjutkan dengan terapi menyiapkan dia kembali ke kehidupan normal gitu. Makanya namanya rehabilitasi," pungkas dokter tersebut.

Jadi, intinya butuh waktu dan proses yang bertahap. Dari perawatan intensif di rumah sakit hingga terapi lanjutan agar mereka bisa beradaptasi kembali dengan dunia nyata. Serius banget, ya.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar