Orang lain mungkin melihatnya kelelahan karena seabrek aktivitas. Tapi Bunna justru merasa gelisah kalau tidak bekerja. "Sekalinya rebahan, ya, butuh berhari-hari juga," katanya. Pola kerjanya memang begitu, naik turun.
Soal penanganan, dia mengaku masih rutin kontrol dan minum obat. Sayangnya, untuk hal seperti meditasi atau konsultasi ke psikolog, waktu sepertinya belum mengizinkan.
Peran Lingkungan yang Supportif
Di sisi lain, Rachel sangat menekankan betapa pentingnya dukungan dari orang-orang terdekat. Lingkungan pertemanan yang supportif itulah yang membantunya bertahan hingga sekarang.
ungkap Bunna.
Dia juga mengikuti saran dokternya untuk tetap aktif berinteraksi. Tujuannya jelas: agar pikiran-pikiran mengganggu tidak mudah menyelinap. "Bismillah, sesama penyintas kita sama-sama berjuang, ya," tutupnya penuh harap.
Jadi, itulah perjalanan Rachel Vennya. Sebuah pengakuan jujur tentang berdamai dengan diri sendiri, lengkap dengan segala dinamikanya.
Artikel Terkait
Waspadai Tanda Samar Kolesterol Tinggi Usai Lebaran
Waspadai Lonjakan Kolesterol hingga Asam Urat Usai Menyantap Hidangan Lebaran
Tips Atasi Post-Holiday Blues Usai Libur Lebaran
SNBT 2026: Lokasi UTBK Ditentukan Sistem Acak untuk Cegah Kecurangan