Udang Indonesia Kembali Ekspor ke AS: Capai Preseden Global & Raih Rp 20 Miliar

- Sabtu, 08 November 2025 | 14:30 WIB
Udang Indonesia Kembali Ekspor ke AS: Capai Preseden Global & Raih Rp 20 Miliar
Udang Indonesia Kembali Diterima di AS: Capai Preseden Global | KKP

Udang Indonesia Kembali Diterima di AS, Capai Preseden Global untuk Sertifikasi Radiasi

Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) mengumumkan keberhasilan besar dengan diterimanya kembali udang Indonesia di pasar Amerika Serikat. Kesuksesan ini diraih setelah U.S. Food and Drug Administration (FDA) secara resmi menetapkan Badan Mutu KKP sebagai Certifying Entity (CE) untuk sertifikasi bebas Cesium-137 pada produk udang.

Penetapan bersejarah ini menjadikan Indonesia sebagai negara pertama di dunia yang memperoleh mandat sertifikasi radiasi untuk sektor perikanan. Pencapaian ini mengubah posisi Indonesia dari sekadar bereaksi terhadap krisis menjadi penentu standar global.

Ekspor Perdana Udang Bersertifikat Bebas Cesium-137

Per 31 Oktober 2025, skema sertifikasi bebas Cs-137 telah beroperasi penuh. KKP bersama BAPETEN dan Bea Cukai melepas ekspor perdana udang ke Amerika Serikat sebanyak 7 kontainer. Ekspor ini memiliki volume 106 ton dengan nilai mencapai USD 1,22 juta atau setara Rp 20,14 miliar. Seluruh produk telah memenuhi prosedur ketat sesuai ketentuan Yellow List dan dipastikan bebas kontaminasi Cs-137.

Kepala Badan Mutu KKP, Ishartini, menegaskan komitmen untuk memenuhi pasar Amerika Serikat. "Udang Indonesia memiliki cita rasa yang khas, dan kami akan terus melakukan pengendalian mutu. Target kami pada November ini dapat mengekspor lebih dari 200 kontainer udang yang telah memenuhi syarat bebas Cesium," ungkapnya.

Langkah Cepat Pemerintah Pulihkan Ekspor

Staf Khusus Menteri Kelautan dan Perikanan, Doni Ismanto Darwin, menekankan keseriusan pemerintah dalam menangani temuan radioaktif. KKP bersama kementerian dan lembaga terkait segera mengambil langkah strategis, termasuk audit lapangan dan penguatan fasilitas laboratorium.

"Dalam kasus ini, terbukti negara hadir. Kita tidak diam. Dalam hitungan hari, tim teknis lintas lembaga langsung bekerja sama. Kami membuka data, memperbaiki SOP, dan memperkuat laboratorium. Dalam waktu relatif singkat, 2-3 bulan, Indonesia berhasil kembali menembus pasar AS dengan mekanisme sertifikasi yang diakui FDA. Ini adalah bukti infrastruktur mutu kita yang responsif, transparan, dan dipercaya secara global," sambung Doni.

Kinerja Ekspor Udang Indonesia ke Amerika Serikat

Udang tetap menjadi komoditas andalan ekspor produk perikanan Indonesia. Pada periode Januari-September 2025, nilai ekspor udang mencapai USD 1,397,23 juta. Komoditas unggulan lainnya antara lain tuna, cakalang, tongkol (USD 763,51 juta), cumi-sotong-gurita (USD 574,75 juta), rajungan-kepiting (USD 377,65 juta), dan rumput laut (USD 233,86 juta).

Amerika Serikat masih menjadi tujuan utama ekspor udang Indonesia, dengan pangsa mencapai 63,1% dari total ekspor. Ekspor udang ke AS pada periode Januari-September 2025 bahkan meningkat 16,3% (year-on-year). Pertumbuhan positif juga terlihat pada ekspor bulan September 2025 yang naik 16,6% dibandingkan Agustus 2025.

Direktur Pemberdayaan Usaha PDSPKP, Catur Sarwanto, menyatakan, "Ekspor udang masih menunjukkan peningkatan hingga September. Ini membuktikan bahwa kita mampu memulihkan kondisi dengan cepat, yang dibuktikan dengan peningkatan ekspor hingga triwulan III."

Pengawalan Mutu dari Hulu ke Hilir

Untuk memastikan kualitas udang yang dihasilkan, KKP melakukan pengawalan penuh dari proses produksi di tingkat petambak. Direktur Ikan Air Payau Ditjen Perikanan Budidaya KKP, Fernando Jongguran Simanjuntak, menjelaskan bahwa pengawalan dilakukan melalui penerapan Cara Budidaya Ikan yang Baik (CBIB).

"Kami mengintensifkan kegiatan CBIB di kalangan petambak untuk memberikan jaminan mutu, keamanan pangan, dan kelestarian lingkungan. Dengan demikian, udang yang dihasilkan Indonesia benar-benar memiliki kualitas terbaik," pungkas Fernando.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar