Wall Street berakhir di zona merah pada Rabu (17/12/2025). Aksi jual besar-besaran, terutama di saham-saham teknologi, mengguncang bursa. Ternyata, penyebabnya adalah keraguan yang tiba-tiba muncul soal demam kecerdasan buatan atau AI yang selama ini jadi motor penggerak pasar.
Nasdaq Composite, barometer utama sektor tech, anjlok paling dalam: 1,81 persen ke level 22.693,32. S&P 500 juga ikut terperosok 1,16 persen. Bahkan, kedua indeks ini sekarang tercatat di posisi terendah dalam tiga minggu terakhir. Dow Jones relatif lebih tahan, meski tetap merosot 0,47 persen.
Lalu, apa yang terjadi? Rupanya, euforia investasi AI mulai dipertanyakan. Investor mulai gelisah melihat betapa besarnya pengeluaran modal yang harus dikucurkan perusahaan-perusahaan teknologi untuk membangun infrastruktur AI. Belanja gila-gilaan itu sering dibiayai dengan utang, dan kini banyak yang bertanya-tanya: kapan balik modalnya?
Ross Mayfield, ahli strategi di Baird Private Wealth Management, mencermati suasana ini.
"Ada kecemasan yang merembes soal perdagangan AI. Intinya ada pada tingkat pengeluaran modal dan sifatnya yang sirkular, dengan OpenAI sering jadi pusat cerita," ujarnya.
Menurut Mayfield, pasar mulai mempertanyakan imbal hasil dari semua belanja besar itu, apalagi di penghujung tahun.
Namun begitu, tidak semua sektor terpuruk. Di tengah pelemahan itu, saham-saham energi justru bersinar. Pemicunya adalah lonjakan harga minyak mentah setelah Presiden Donald Trump mengeluarkan perintah blokade terhadap tanker-tanker minyak Venezuela yang kena sanksi. Kebijakan itu langsung mendongkrak saham seperti ConocoPhillips dan Occidental Petroleum, yang melonjak lebih dari 4 persen.
Di sisi lain, ada secercah harapan dari ucapan seorang pejabat Federal Reserve, Christopher Waller. Sebagai figur yang dikenal cukup 'dovish', Waller memberi sinyal bahwa bank sentral masih punya ruang untuk memotong suku bunga lagi. Alasannya? Pasar tenaga kerja AS mulai menunjukkan tanda-tanda melunak, yang bisa jadi pintu masuk untuk langkah stimulus guna menjaga ekonomi tetap bertahan.
Jadi, Rabu itu adalah hari dimana kekhawatiran bertemu dengan harapan. Teknologi tersandung bayang-bayang biayanya sendiri, sementara energi dan sinyal dari The Fed berusaha menahan laju pelemahan.
Artikel Terkait
Bitcoin Tembus Rp1,39 Miliar, Tertinggi dalam Tiga Bulan Didorong Arus Dana Institusional
BRI Gandeng Grab, Beri Diskon Belanja dan Transportasi bagi Pemegang Kartu Kredit
MNC Bank Medan Bagikan Hadiah Cashback Jutaan Rupiah Lewat Program Tabungan Dahsyat Arisan
IHSG Ditutup Menguat 1,22 Persen ke 7.057, Didorong Sektor Barang Baku dan Keuangan