Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Rupiah Tertekan Mendekati Rp 18 Ribu

- Senin, 27 Juli 2026 | 11:00 WIB
Perry Warjiyo Mundur dari Gubernur BI, Rupiah Tertekan Mendekati Rp 18 Ribu

Perry Warjiyo resmi mengundurkan diri sebagai Gubernur Bank Indonesia (BI). Pengunduran diri itu diumumkan Menteri Sekretaris Negara Prasetyo Hadi dalam konferensi pers bersama anggota Dewan Gubernur BI di Kantor BI, Senin (27/7). Posisi Gubernur BI untuk sementara diisi Deputi Gubernur Senior BI Destry Damayanti sebagai penjabat.

Destry mengungkapkan Perry telah mengajukan surat pengunduran diri pada 25 Juli 2026. “Pengunduran diri saudara Perry Warjiyo dari jabatan Gubernur Bank Indonesia secara sukarela karena alasan pribadi pada tanggal 25 Juli 2026,” ujarnya. Prasetyo Hadi menambahkan surat tersebut telah disampaikan langsung Perry kepada Presiden Prabowo Subianto.

Perry memutuskan mundur ketika nilai tukar rupiah masih dalam tren pelemahan terhadap dolar AS. Kurs rupiah saat ini kembali mendekati level Rp 18 ribu per dolar AS. Sebelum mengundurkan diri, Perry masih menyampaikan optimisme bahwa rupiah akan kembali menguat dalam beberapa bulan ke depan.

Dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR pada 18 Mei 2026, Perry mengatakan rata-rata nilai tukar rupiah sepanjang tahun masih diyakini berada dalam kisaran asumsi makro yang disepakati pemerintah dan DPR, yakni Rp 16.200 hingga Rp 16.800 per dolar AS. “Nilai fundamentalnya berapa? Average of the year Rp 16.500, kisaran bawahnya Rp 16.200, kisaran atasnya Rp 16.800,” katanya.

Menurut Perry, tekanan terhadap rupiah lebih banyak dipicu faktor eksternal dan kebutuhan musiman, bukan karena melemahnya fundamental ekonomi Indonesia. Permintaan valuta asing biasanya meningkat pada April hingga Juni untuk pembayaran dividen, utang luar negeri, hingga perjalanan haji. Ia menilai nilai tukar rupiah saat itu masih berada di bawah nilai wajarnya (undervalue).

Perry optimistis kurs rupiah akan kembali bergerak sesuai fundamental ekonomi nasional seiring proyeksi pertumbuhan ekonomi, inflasi, dan neraca pembayaran yang tetap terjaga. BI juga memperkirakan tekanan permintaan dolar AS akan mereda memasuki semester II tahun ini. “Juli, Agustus akan menguat. Juli, Agustus, September,” ujar Perry dalam rapat kerja bersama Komisi XI DPR.

Editor: Raditya Aulia

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags