Seorang remaja laki-laki di California, Adam, ditemukan meninggal karena bunuh diri pada April 2025. Orang tuanya, Matt dan Maria Raine, menggugat OpenAI, pengembang ChatGPT, ke pengadilan tinggi California. Mereka menuding chatbot AI itu turut mendorong putra mereka mengakhiri hidup.
Sejak September 2024, Adam yang saat itu berusia 15 tahun mulai sering menggunakan ChatGPT untuk mengerjakan PR. Interaksi itu memberi kepuasan tersendiri, membuatnya semakin bergantung pada chatbot untuk berbagai hal dari kegiatan sekolah, minat pada musik dan komik Jepang, hingga gambaran tentang perkuliahan. Kedua orang tuanya mulai merasa tersisih. "ChatGPT menjadi tempat interaksinya yang terdekat," keluh sang ibu.
Kekhawatiran mereka memuncak pada Januari 2025, ketika Adam mulai membicarakan metode bunuh diri dengan chatbot. Ia juga mengunggah foto bekas luka di tubuhnya. Chatbot tetap merespons tanpa mengenali keadaan darurat medis. Dalam obrolan terakhir yang terlacak, Adam menulis rencananya mengakhiri hidup. Chatbot menjawab, "Terima kasih telah jujur tentang hal itu. Kamu tidak perlu berbasa-basi saya tahu apa yang kamu minta, dan saya tidak akan mengabaikannya." Hari itu juga, Adam ditemukan meninggal oleh ibunya.
OpenAI menyampaikan belasungkawa dan merasa sedih atas kejadian tersebut. Perusahaan itu mengakui bahwa peralihan interaksi ke perangkat AI semakin umum, termasuk oleh mereka yang mengalami tekanan mental. Dalam catatan berjudul "Helping People when They Need it Most," OpenAI menyebutkan banyak orang beralih ke chatbot untuk nasihat hidup, pelatihan, dan dukungan. Mereka telah menyusun panduan penggunaan yang aman dan berencana membagikannya setelah pembaruan selesai. Kasus seperti Adam mendorong mereka untuk segera membagikan panduan tersebut. OpenAI juga mengklaim telah menyempurnakan model AI agar mampu mengenali tanda-tanda gangguan mental dan menghubungkan pengguna ke layanan perawatan.
Ilusi Teman yang Selalu Mendukung
Peristiwa ini menjadi catatan bagi para orang tua. Chatbot memberikan ilusi interaksi yang memuaskan karena selalu tersedia kapan pun. Tak pernah bersilang pendapat, chatbot menciptakan kesan sebagai rekan yang memahami dan mendukung sangat membangkitkan semangat, terutama saat mental sedang rapuh. Penelitian Efua Andoh (2025) yang diterbitkan American Psychological Association mengonfirmasi hal ini. Psikolog media Don Grant, PhD, dari Newport Healthcare menyatakan bahwa chatbot dirancang untuk memprioritaskan interaktivitas di atas kesejahteraan pengguna. "Sengaja diprogram untuk bersikap ramah dan menyenangkan," katanya. Keramahan terus-menerus ini bukanlah ciri interaksi manusia yang tulus.
Dalam kasus Adam, chatbot tidak menyarankan menghentikan tindakan melukai diri atau menghubungkan ke fasilitas medis. Sebaliknya, chatbot melanjutkan interaksi tanpa rasa risau, mendukung keinginan Adam yang makin fatal. Ilusi dukungan dari rekan yang selalu mengerti itulah yang mendorongnya melakukan bunuh diri.
Remakin Banyak Remaja Beralih ke AI
Penelitian Common Sense Media tahun 2024 mengungkap bahwa 70% remaja telah menggunakan generative AI seperti ChatGPT, Character.AI, atau My AI dari Snapchat. Chatbot ini digunakan oleh remaja yang terisolasi secara sosial sebagai teman. Sifatnya yang resiprokal memberikan tanggapan, informasi, dan umpan balik memenuhi harapan pengguna.
Penyempurnaan AI adalah keniscayaan. Chatbot terus dikembangkan untuk meniru interaksi manusiawi yang tulus, tidak selalu mengonfirmasi kehendak pengguna. Namun, kasus seperti Adam menunjukkan bahwa tanpa muatan emosi, interaksi artifisial berisiko mencuri kemampuan anak untuk belajar interaksi empatik. Interaksi tanpa emosi adalah interaksi nirempati dan itulah yang hilang ketika anak-anak lebih mengandalkan chatbot daripada interaksi manusiawi.
Artikel Terkait
Pendeta Florida Gugat OpenAI karena Saran Medis ChatGPT yang Hampir Merenggut Nyawanya
Polisi Temukan Senpi Legal Milik Korban di Kamar Hotel St Regis, Jakarta Selatan
Bos Perusahaan Ditemukan Tewas di Hotel Jaksel, Diduga Bunuh Diri
OpenAI Tutup Browser Atlas, Fokus Kembangkan ChatGPT sebagai Asisten Digital