Presiden Prabowo Subianto meresmikan dimulainya pembangunan proyek gas alam cair (LNG) Lapangan Abadi, Blok Masela, di Kabupaten Kepulauan Tanimbar, Maluku Tenggara Barat, Kamis (16/7). Proyek yang sudah tertunda hampir tiga dekade ini diminta dikerjakan secepat mungkin.
"Alhamdulillah hari ini mulai pembangunan dan pembangunan tidak boleh terhambat harus selesai dalam waktu sesingkat-singkatnya," tegas Prabowo dalam tayangan virtual.
Presiden berterima kasih kepada operator Blok Masela, Inpex Corporation bersama mitranya Petronas dan PT Pertamina (Persero), serta meminta dukungan semua pihak agar proyek rampung cepat. Setelah Shell hengkang pada 2023, struktur kepemilikan menjadi INPEX Masela 65 persen, Pertamina Hulu Energi Masela 20 persen, dan Petronas Masela 15 persen.
Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia mengungkapkan, proyek ini sempat terkatung-katung selama 28 tahun karena perdebatan lokasi antara lepas pantai (offshore) atau daratan (onshore). "Pada hari ini, tepat pada tanggal 16 Juli 2026 kita menandai babak baru Proyek Abadi Masela yang sudah dicanangkan 28 tahun lalu, sudah enam presiden, Presiden Prabowo Subianto lah yang bisa mengeksekusi hari ini. Saya harus menyampaikan kepada Bapak Presiden karena proyek ini sudah lama terkatung-katung," tegasnya.
Proyek LNG Abadi Wilayah Kerja Masela merupakan salah satu Proyek Strategis Nasional (PSN) yang dikelola INPEX Corporation melalui anak perusahaannya INPEX Masela, Ltd. Kapasitas produksi mencapai 9,5 juta ton LNG per tahun dengan dukungan teknologi Carbon Capture Storage (CCS).
Nilai investasi proyek sekitar USD 20,9 miliar atau sekitar Rp 342 triliun, termasuk USD 1 miliar untuk teknologi CCS. Selain LNG, proyek ini juga menghasilkan kondensat hingga 35.000 barel per hari dan gas alam sekitar 150 juta kaki kubik per hari.
Lapangan Abadi di Blok Masela, Laut Arafura, berlokasi sekitar 12 mil dari pulau terdekat dan 750 km selatan Ambon. Kedalaman air berkisar antara 400 hingga 800 meter. Sisi selatan Blok Masela beririsan dengan perbatasan wilayah laut Indonesia-Australia, namun seluruh blok berada di wilayah Indonesia.
Rencana pengembangan meliputi fasilitas bawah laut, Floating Production Storage and Offloading (FPSO), pipa ekspor gas, dan pabrik LNG daratan (Onshore LNG) di Pulau Yamdena. FPSO memiliki dua train pemrosesan gas untuk mengirimkan gas kering ke pabrik LNG. Kapasitas produksi LNG terdiri dari dua train masing-masing 4,75 juta ton per tahun, ditambah 150 juta kaki kubik per hari pipa gas untuk industri lokal. CO2 dari unit pemrosesan akan dikompresi dan diinjeksikan kembali ke sumur di Lapangan Abadi.
Artikel Terkait
Prabowo: Anggapan Indonesia Bangsa Malas dan Gemar Tidur Tidak Benar
Prabowo Resmikan Proyek LNG Blok Masela, Proyek yang Mandek 28 Tahun Akhirnya Dimulai
Prabowo Buka Opsi Kantin Sekolah untuk Program Makan Bergizi Gratis
Rupiah Tembus Rp18.000 per Dolar AS, Rekor Terlemah Sepanjang Sejarah