Pelajar MAN di Padang Ledakkan Bom Rakitan Akibat Bullying, Belajar Otodidak dari Internet

- Kamis, 16 Juli 2026 | 15:15 WIB
Pelajar MAN di Padang Ledakkan Bom Rakitan Akibat Bullying, Belajar Otodidak dari Internet

Seorang pelajar Madrasah Aliyah Negeri (MAN) 3 Padang, Sumatera Barat, berinisial R (17) meledakkan bom rakitan di sekolahnya pada Selasa (14/7). Perbuatan itu didorong oleh akumulasi tekanan psikologis akibat perundungan yang dialaminya sejak kelas 2. R belajar merakit bom secara otodidak selama empat bulan, dengan sumber belajar dari YouTube, Instagram, dan internet.

"Berdasarkan pengakuan dari yang bersangkutan, dia belajar secara mandiri atau otodidak dari YouTube, Instagram, dan internet. Dia belajar mandiri secara autodidak dan itu sudah disampaikannya," ujar Kabid Humas Polda Sumbar, Kombes Susmelawati Rosya, Kamis (16/7).

Polisi belum menemukan adanya pihak lain yang membimbing R merakit bom. "Sampai saat ini, belum ada informasi terkait adanya pihak atau orang lain yang membimbingnya. Dari hasil pemeriksaan terhadap pelaku, memang dia itu mengaku belajar autodidak secara mandiri sendiri," ungkap Susmelawati.

R mulai belajar merakit bom sejak bulan Ramadan, sekitar April hingga Juli. Ia menjadi korban perundungan sejak duduk di kelas 2 dan kini telah naik ke kelas 3. "Jadi, tindakan ini kemungkinan merupakan akumulasi dari beban tekanan psikologis yang mendalam. Sehingga dia dari bulan Ramadan sudah belajar secara otodidak, kemudian melihat internet, melihat Instagram itu ia lakukan, itu ia akui sendiri," tambah Susmelawati.

Ledakan bom rakitan terjadi di MAN 3, Kelurahan Balai Gadang, Kecamatan Koto Tengah, Kota Padang. Barang yang diduga bom rakitan pertama kali ditemukan oleh petugas keamanan sekolah. Tidak ada korban jiwa dalam peristiwa tersebut.

Tak Terafiliasi Jaringan Terorisme

Polisi memastikan R tidak terafiliasi dengan jaringan terorisme. "Update dari informasi menunjukkan bahwa kejadian ini tidak ada hubungannya dengan jaringan-jaringan terorisme seperti yang kita bayangkan," ucap Susmelawati.

Saat ini R menjalani rehabilitasi psikologis. Pihak kepolisian berkoordinasi dengan organisasi perangkat daerah (OPD) setempat untuk pemulihan. "Jadi, kita juga butuh merehab (pemulihan) supaya merehabilitasi psikologis si anak ini agar tidak terpapar lebih jauh. Saat ini, Kapolres sudah berkoordinasi dan berkolaborasi dengan OPD setempat untuk pemulihan dan rehabilitasi korban. Ini yang sedang menjadi prioritas utama," tuturnya.

Pemeriksaan terhadap R masih berjalan, namun polisi masih berfokus pada pemulihan. "Saat ini masalah pemeriksaan sedang berjalan. Masalah penetapan (status) atau apa itu belum ada, karena fokus saat ini adalah pemulihan bagi korban. Pemulihan atau pendampingan psikologis bagi korban menjadi hal yang paling utama," jelas Susmelawati.

Selain itu, trauma healing juga dilakukan untuk siswa-siswi di sekolah. "Yang kedua juga ada pemulihan untuk anak-anak sekolah. Jadi dari Polsek kemarin sudah dilakukan trauma healing oleh Kapolsek-nya ke sekolah. Seperti yang disampaikan kemarin oleh pimpinan, anak ini kan masih muda, usianya 17 tahun, dan dia ini terpapar," tambahnya.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Tags