Harga minyak sawit mentah atau CPO mencatat penguatan pada perdagangan Jumat, 19 Juni 2026, didorong oleh optimisme pasar terhadap rencana implementasi mandat biodiesel B50 di Indonesia yang diproyeksikan akan meningkatkan konsumsi dalam negeri dan menekan pasokan global.
Indonesia, yang merupakan produsen minyak sawit terbesar di dunia, bersiap memberlakukan kebijakan pencampuran 50 persen biodiesel berbasis minyak sawit dengan 50 persen solar konvensional mulai 1 Juli mendatang. Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral, Bahlil Lahadalia, pada Kamis lalu menyatakan bahwa uji coba bahan bakar tersebut telah menunjukkan hasil yang positif.
Di bursa derivatif Malaysia, kontrak acuan CPO untuk pengiriman September naik 1,60 persen menjadi 4.646 ringgit Malaysia per ton. Sepanjang pekan ini, harga komoditas tersebut telah menguat sebesar 3,82 persen. Sementara itu, pasar komoditas di Dalian dan Chicago tutup karena hari libur nasional.
“Kontrak berjangka diperdagangkan menguat tajam hari ini karena optimisme atas konfirmasi penerapan mandat biodiesel B50 Indonesia, ekspektasi rilis resmi alokasi B50 dalam waktu dekat, serta kemungkinan harga gas oil mulai menemukan titik terendah setelah mengalami penurunan tajam dalam beberapa waktu terakhir,” ujar Kepala Riset Sunvin Group, Anilkumar Bagani, seperti dikutip dari Reuters. Perusahaan tersebut merupakan broker minyak nabati yang berbasis di Mumbai.
Di sisi lain, harga minyak mentah justru melemah pada hari yang sama. Pelemahan ini dipicu oleh membaiknya prospek pasokan setelah kapal tanker mulai kembali melintasi Selat Hormuz, yang dibuka kembali menyusul kesepakatan damai antara Amerika Serikat dan Iran. Penurunan harga minyak mentah berjangka membuat minyak sawit menjadi opsi bahan baku biodiesel yang kurang menarik bagi pasar.
Dewan Minyak Sawit Malaysia atau MPOC memperkirakan harga CPO Malaysia akan bergerak dalam rentang 4.400 hingga 4.650 ringgit per ton selama Juli. Sementara itu, nilai tukar ringgit Malaysia melemah 0,51 persen terhadap dolar AS, sehingga membuat komoditas ini lebih terjangkau bagi pembeli yang menggunakan mata uang asing.
Artikel Terkait
Investor Asing Lepas Saham Rp4,47 Triliun dalam Sepekan, IHSG Tetap Menguat
BEI Catat 10 Saham Terpuruk Sepanjang Pekan, MLPT Pimpin Daftar Top Losers
Harga Minyak Brent Naik Tipis Namun Tertekan Gencatan Senjata Israel-Hizbullah dan Syarat Baru Iran di Selat Hormuz
IHSG Ditutup Menguat 2,82 Persen dalam Sepekan, Kapitalisasi Pasar Bertambah Rp264 Triliun