Harga Minyak Brent Naik Tipis Namun Tertekan Gencatan Senjata Israel-Hizbullah dan Syarat Baru Iran di Selat Hormuz

- Sabtu, 20 Juni 2026 | 10:40 WIB
Harga Minyak Brent Naik Tipis Namun Tertekan Gencatan Senjata Israel-Hizbullah dan Syarat Baru Iran di Selat Hormuz

Harga minyak mentah Brent mencatat kenaikan tipis pada perdagangan Jumat, namun tetap membukukan penurunan mingguan hingga sekitar delapan persen di tengah meredanya ketegangan geopolitik setelah Israel dan Hizbullah menyepakati gencatan senjata di Lebanon. Di sisi lain, langkah Iran yang menetapkan sejumlah persyaratan baru terkait penggunaan Selat Hormuz jalur vital perdagangan energi global justru menghadirkan dinamika baru yang memengaruhi pergerakan harga.

Pada penutupan perdagangan Jumat, harga minyak mentah Brent berjangka naik 0,53 persen menjadi 80,38 dolar AS per barel. Sementara itu, minyak mentah West Texas Intermediate (WTI) Amerika Serikat menguat 1,23 persen ke level 77,54 dolar AS per barel. Aktivitas perdagangan berlangsung relatif tipis karena pasar AS tengah libur nasional.

Kenaikan ini terjadi di tengah persiapan produsen minyak di kawasan Teluk untuk meningkatkan ekspor setelah gencatan senjata mulai berlaku pada pukul 20.00 WIB, Jumat. Data MarineTraffic menunjukkan setidaknya empat kapal tanker yang mengangkut minyak mentah, produk minyak, dan gas petroleum cair telah memasuki Selat Hormuz menuju pelabuhan-pelabuhan Irak di kawasan Teluk.

Namun, di tengah meningkatnya aktivitas pelayaran tersebut, Iran memberikan isyarat akan melakukan pengawasan yang lebih ketat. Televisi pemerintah Iran melaporkan bahwa setiap kapal wajib berkoordinasi dengan angkatan laut Garda Revolusi Iran sebelum melintasi wilayah tersebut. Dalam pemberitahuan yang diedarkan kepada industri maritim dalam 24 jam terakhir, Otoritas Selat Teluk Persia Iran menegaskan bahwa tidak ada kapal yang diizinkan melewati Selat Hormuz tanpa izin pelayaran sah yang diterbitkan oleh otoritas setempat.

Pendiri buletin Commodity Context, Rory Johnston, menilai kekhawatiran terhadap persyaratan baru Iran turut mendorong kenaikan harga minyak pada Jumat. “Pasar sebelumnya memperkirakan adanya kesepakatan dan pelaksanaan yang berjalan mulus, tetapi sejauh ini hal tersebut tampaknya tidak terjadi,” ujarnya.

Meski mencatat kenaikan harian, harga Brent tetap tertekan secara mingguan. Penurunan sekitar delapan persen tersebut mencerminkan meredanya kekhawatiran terhadap gangguan pasokan setelah kesepakatan antara Amerika Serikat dan Iran untuk mengakhiri perang. Analis Senior Price Futures Group, Phil Flynn, mengatakan bahwa meskipun harga minyak belum kembali ke level sebelum perang dimulai, pasar tampaknya sedang menuju ke arah tersebut. Ia menambahkan bahwa pasokan minyak yang lebih besar diperkirakan akan masuk ke pasar dalam beberapa hari mendatang.

“Antrean kapal dapat bergerak lebih cepat dari perkiraan sebagian pihak, dan jika ada kerja sama antara Iran dan AS, prosesnya bisa berlangsung dengan sangat cepat,” ujar Flynn.

Rencana pertemuan antara pejabat Iran dan AS di Swiss pada Jumat ditunda. Kementerian Luar Negeri Iran menyatakan kedua pihak tengah mengatur pembicaraan lanjutan dalam beberapa hari mendatang. Pertemuan itu dinilai tidak lagi mendesak karena nota kesepahaman untuk mengakhiri perang telah ditandatangani secara digital oleh kedua negara. Namun, dalam perkembangan terbaru, utusan khusus Presiden AS Donald Trump, Steve Witkoff, dikabarkan sedang dalam perjalanan ke Swiss untuk menghadiri putaran pertama pembicaraan dengan Iran terkait kemungkinan kesepakatan nuklir.

Para analis memperkirakan kesepakatan tersebut dapat melepas lebih dari 85 juta barel minyak yang sebelumnya tertahan di kawasan Teluk Timur Tengah ke pasar global. Kesepakatan itu juga mencakup pencabutan sanksi AS terhadap minyak Iran, yang berpotensi menambah pasokan global secara signifikan.

Sekitar 20 persen pasokan minyak dan gas alam cair dunia melewati Selat Hormuz. Meski demikian, pemulihan arus perdagangan dan produksi setelah kesepakatan AS-Iran diperkirakan membutuhkan waktu beberapa bulan. Citi dalam skenario utamanya dengan probabilitas 60 persen memperkirakan normalisasi arus perdagangan secara berkelanjutan. Kondisi tersebut berpotensi membuat pasar minyak mengalami surplus dan mendorong harga turun dalam enam hingga 12 bulan ke depan menjadi sekitar 60 hingga 65 dolar AS per barel pada kuartal I 2027.

Commerzbank memperkirakan pasokan minyak akan pulih secara bertahap. Bank tersebut telah memangkas proyeksi harga Brent akhir tahun menjadi 80 dolar AS per barel dari sebelumnya 85 dolar AS per barel, namun memperkirakan harga tetap berada di atas level sebelum perang sepanjang sebagian besar tahun depan. Sementara itu, Menteri Perminyakan Irak, Basim Mohammed, menyatakan ladang minyak negaranya siap kembali beroperasi dan produksi diperkirakan meningkat secara bertahap hingga kembali ke tingkat normal.

Dari sisi permintaan, Organisasi Negara-negara Pengekspor Minyak dalam laporan World Oil Outlook 2026 memperkirakan konsumsi minyak dunia akan meningkat menjadi 113,3 juta barel per hari pada 2030, naik dari 105,1 juta barel per hari pada 2025.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar