Prospek PT Amman Mineral Internasional Tbk (AMMN) diproyeksikan cerah seiring peningkatan produksi tambang, percepatan operasional smelter, dan harga komoditas yang masih kuat. Perusahaan tambang tembaga dan emas ini dinilai berpotensi memasuki siklus puncak laba baru dalam beberapa tahun mendatang.
Analis UOB Kay Hian, Benyamin Mikael, menilai AMMN berpeluang mencatatkan laba tertinggi sepanjang sejarah pada 2026. Proyeksi ini didorong oleh pemulihan produksi yang signifikan. UOB Kay Hian memperkirakan produksi tembaga dalam konsentrat AMMN akan melonjak 124 persen secara tahunan pada 2026, sementara produksi emas diperkirakan melesat hingga 565 persen.
Kenaikan produksi tersebut ditopang oleh peningkatan kapasitas pengolahan bijih (mill throughput) dan transisi Tambang Batu Hijau ke Fase 8 yang memiliki kadar bijih lebih tinggi. Atas prospek ini, UOB Kay Hian memulai peliputan saham AMMN dengan rekomendasi beli dan target harga Rp7.000 per unit.
Di pasar reguler, pada Selasa (9/6/2026) pukul 09.35 WIB, saham AMMN tercatat naik 1,27 persen ke level Rp3.190 per unit. Kinerja operasional perusahaan juga menunjukkan perbaikan. Pada kuartal I-2026, AMMN memproduksi 167.792 dry metric ton (dmt) konsentrat tembaga dan 27.670 ton katoda tembaga. Produksi konsentrat tembaga melonjak 110 persen dibandingkan periode yang sama tahun sebelumnya.
Sementara itu, penjualan katoda tembaga mencapai 28.764 ton pada tiga bulan pertama tahun ini. Hingga akhir Maret 2026, perusahaan telah mengekspor 181.366 dmt konsentrat tembaga dari total kuota ekspor 480.000 dmt yang diperoleh pada Oktober lalu. Meski demikian, AMMN memperkirakan tidak akan menggunakan seluruh kuota ekspor tersebut yang berlaku hingga April 2026. Sebagian volume konsentrat diproyeksikan dialihkan untuk mendukung proses peningkatan kapasitas smelter domestik.
Perseroan menyatakan pengujian smelter tembaga dan fasilitas pemurnian logam mulia masih berlangsung dan ditargetkan rampung pada Juli 2026. Untuk tahun ini, AMMN menargetkan produksi konsentrat sebesar 900.000 dmt, termasuk sekitar 220.000 ton tembaga.
Di sisi lain, Maybank Sekuritas Indonesia melihat sejumlah tantangan yang dapat membatasi pertumbuhan laba perusahaan. Risiko tersebut antara lain berasal dari proses peningkatan kapasitas smelter yang berpotensi lebih lambat dari perkiraan serta kemungkinan harga jual rata-rata emas yang lebih rendah.
Maybank juga menyoroti penghapusan saham AMMN dari indeks standar global MSCI yang berpotensi memengaruhi arus dana investor institusi. Karena faktor-faktor tersebut, Maybank memangkas proyeksi laba bersih AMMN masing-masing sebesar 28,4 persen untuk 2026, 27,5 persen untuk 2027, dan 25 persen untuk 2028.
Meski menurunkan target harga saham menjadi Rp5.500 dari sebelumnya Rp11.000 per unit, Maybank tetap mempertahankan rekomendasi beli untuk AMMN.
Artikel Terkait
Harga Batu Bara Tembus Level Tertinggi Imbas Kebijakan Ekspor Baru Indonesia
IHSG Dibuka Menguat 0,05 Persen, Lalu Melesat 1,51 Persen ke Level 5.422
Bursa Asia Menguat, KOSPI Melonjak 3 Persen Pimpin Rebound Saham Teknologi
BEI Dorong Emiten Tingkatkan Kepemilikan Saham Publik Minimal 15 Persen