Sampai saat ini program biomassa telah diimplementasikan pada 43 Pembangkit Listrik Tenaga Uap (PLTU) milik PLN. Selain berkontribusi pada penurunan emisi sebesar 1,7 juta ton CO2, program ini juga turut mendorong perekonomian masyarakat sekitar lokasi pembangkit.
“Sebagai contoh, PLN bersama Pemerintah Provinsi DIY mengembangkan Green Economy Village (GEV) yang menerapkan konsep circular economy. Lewat skema ini, lahan yang tidak produktif disulap menjadi lahan produktif dengan ditanami jati, kaliandra serta indigofera sebagai bahan baku biomassa dan pakan ternak,” terang Darmawan.
Program inipun sukses meningkatkan perekonomian masyarakat hingga 44 persen dan manfaat ekonomi mencapai Rp1,3 miliar per tahun untuk setiap desa.
"Kami akan mengembangkan konsep GEV ini jauh lebih luas lagi menyentuh seluruh daerah-daerah lainnya. Bahkan PLN sudah membangun kerja sama dengan ratusan desa," tambah Darmawan.
Kedua, PLN juga memanfaatkan sisa pembakaran batu bara dari PLTU atau FABA sehingga memiliki nilai ekonomi yang dapat dimanfaatkan secara luas.
Melalui program ini, PLN mengoptimalkan potensi 3 juta ton FABA per tahun dari 47 PLTU yang tersebar di seluruh Indonesia. FABA yang dihasilkan berhasil dimanfaatkan menjadi substitusi bahan baku untuk beton, seperti paving, batako, tetrapod, dan produk beton pracetak lainnya. Selain itu FABA juga telah digunakan sebagai bahan campuran pupuk kompos, bahan timbunan tanah dan material NAF (Non Acid Forming) sebagai stabilisator keasaman tanah.
Melalui kolaborasi dengan berbagai pemerintah daerah, PLN mendorong program green tourism untuk merevitalisasi infrastruktur sejumlah wilayah dengan memanfaatkan FABA.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: indonesia.jakartadaily.id
Artikel Terkait
Pizza Hut Indonesia Dirikan Anak Usaha Baru untuk Bisnis Roti dan Akomodasi
Menhub Prediksi Puncak Mudik Lebaran 2026 pada 18 Maret
Saham PP Properti Melonjak 10% Usai BEI Cabut Suspensi
BEI Bekukan Perdagangan Wanteg Sekuritas Terkait Kondisi Operasional