Legenda Persija dan Timnas Era 70-an, Sutan Harhara, Meninggal Dunia

- Minggu, 12 April 2026 | 13:15 WIB
Legenda Persija dan Timnas Era 70-an, Sutan Harhara, Meninggal Dunia

Jakarta Kabarnya datang di hari Sabtu, 11 April 2026. Dunia sepak bola Indonesia kembali kehilangan. Sutan Harhara, mantan bintang Persija Jakarta dan Timnas Indonesia, dikabarkan telah meninggal dunia. Kabar duka ini membuat banyak kalangan, terutama para penggemar sepak bola tua, ikut berduka.

Manajemen Persija Jakarta yang pertama mengonfirmasi berita ini. Melalui unggahan di akun media sosial resmi klub pada Sabtu pagi, mereka menyampaikan pernyataan duka cita yang mendalam.

"Kami menyampaikan belasungkawa yang terdalam atas berpulangnya Sutan Harhara. Mari kita bersama-sama mendoakan yang terbaik untuk almarhum. Semoga keluarga yang ditinggalkan diberi kekuatan dan ketabahan," tulis pernyataan klub itu.

Bagi yang mengikuti sepak bola nasional era 70-an, nama Sutan Harhara bukanlah nama asing. Ia adalah salah satu pilar penting di lini belakang. Kariernya di Persija Jakarta terbilang gemilang. Bersama tim berjuluk Macan Kemayoran itu, ia berhasil membawa pulang dua gelar juara Liga Indonesia, yaitu pada 1973 dan 1975. Kontribusinya di lapangan hijau sangat besar dan tak terlupakan.

Di tingkat internasional, Sutan juga punya catatan mentereng. Sebagai fullback, ia menjadi bagian dari Timnas Garuda di era 1970-an yang disegani. Ia pernah membela Indonesia di Kualifikasi Piala Dunia 1974. Tak hanya itu, ia juga tampil di SEA Games 1977 di Malaysia dan SEA Games 1979 yang digelar di Indonesia sendiri.

Pengalaman menghadapi tim-tim kuat juga pernah ia rasakan. Pada 1974, ia turun melawan Uruguay dan Denmark dalam laga eksibisi. Lalu, setahun setelahnya, ada momen bersejarah ketika Indonesia menjamu klub raksasa Inggris, Manchester United. Saat itu, Sutan bermain bersama sederet nama legendaris seperti Anjas Asmara, Roni Pasla, Junaidi Abdillah, dan Iswadi Idris. Pertandingan yang pasti masih diingat banyak orang.

Usai pensiun sebagai pemain, ternyata kecintaannya pada sepak bola tak luntur. Sutan beralih peran ke pinggir lapangan. Ia menjadi pelatih untuk sejumlah klub top, sebut saja PSMS Medan, PSIS Semarang, dan Semen Padang. Pengetahuannya yang luas tentang taktik dan permainan membuatnya dianggap layak untuk posisi yang lebih strategis.

Bahkan, induk organisasi sepak bola nasional pun memberi kepercayaan. Dari tahun 2010 hingga 2011, Sutan Harhara dipercaya menjabat sebagai Direktur Teknik PSSI. Sebuah perjalanan karier yang panjang dan penuh dedikasi, mulai dari lapangan hingga ke meja direksi.

Kepergiannya tentu meninggalkan luka. Namun, jejak dan jasanya untuk sepak bola Indonesia akan selalu dikenang.

Editor: Handoko Prasetyo

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar