Gejolak di Timur Tengah makin panas, dan pasar global sudah mulai merasakan dampaknya. Pekan depan, harga minyak mentah dan emas diprediksi bakal melonjak. Kekhawatiran akan stabilitas pasokan energi, ditambah dengan perpindahan dana investor ke aset yang dianggap aman, jadi pemicu utamanya.
Menurut analis keuangan Ibrahim Assuaibi, konflik yang kian meluas ini berpotensi mengacaukan distribusi minyak dunia. Titik-titik vital seperti Selat Hormuz jadi sorotan. "Kalau konflik terus berlanjut dan melibatkan lebih banyak pihak, suplai minyak global bisa terganggu," katanya.
Ibrahim menambahkan, dampaknya harga minyak akan naik signifikan.
Dalam keterangan resminya hari Minggu (5/4/2026), dia memperkirakan harga minyak West Texas Intermediate (WTI) bisa meroket hingga menyentuh level USD116 per barel. Situasinya memang rawan.
Namun begitu, minyak bukan satu-satunya komoditas yang bakal terdongkrak. Emas, si safe haven klasik, juga diperkirakan ikut naik. Di tengah ketidakpastian geopolitik dan ancaman inflasi dari energi yang mahal, logam kuning ini selalu jadi andalan. Ibrahim memproyeksikan harga emas dunia berpeluang menembus USD4.878 sampai USD5.080 per troy ounce.
Kalau itu terjadi, jangan kaget kalau harga emas di dalam negeri nantinya menyentuh angka Rp3 juta per gram. Lumayan fantastis.
Artikel Terkait
PLN Tegaskan Tidak Ada Pengembalian Dana untuk Token Listrik yang Salah Beli
Laba Tugu Insurance Melonjak 77% Jadi Rp711 Miliar di 2025
Wall Street Hadapi Pekan Penuh Ujian: Data Inflasi dan Laporan Laba Jadi Sorotan
MDKA Proyeksikan Kontribusi Emas Melonjak Signifikan pada 2026