Lantas, apa yang akan terjadi setelah akuisisi ini selesai? BLUE tak akan lagi seperti dulu. Dragonmine punya rencana besar: mengubah BLUE menjadi perusahaan induk. Nantinya, BLUE akan membawahi sejumlah anak usaha yang fokus di jasa eksplorasi pertambangan. Itu untuk tahap awal.
Anak-anak usaha itulah yang nanti bakal menggarap pekerjaan teknis. Mulai dari layanan geologi, estimasi sumber daya, manajemen eksplorasi, sampai survei GIS dan topografi. Intinya, mereka ingin jadi satu paket lengkap untuk evaluasi proyek tambang.
Tapi itu baru langkah pertama. Dragonmine rupanya punya agenda lebih jauh. Mereka tak cuma mau berurusan dengan jasa. Di tahap selanjutnya, ada rencana untuk mengakuisisi dan mengoperasikan langsung tambang di Indonesia dan semuanya akan dilakukan melalui BLUE.
Kalau rencana akuisisi tambang itu benar-benar terealisasi, wajah BLUE bakal berubah total. Sumber pendapatan utamanya tak lagi dari jasa, melainkan dari penjualan bijih hasil galian tambang mereka sendiri. Sayangnya, soal tambang mana yang jadi incaran, manajemen masih tutup mulut. Detailnya belum dibuka untuk publik.
Sebagai catatan, Dragonmine Mining sendiri berkantor di Harcourt Road, Central, Hong Kong. Profil usahanya beragam, mencakup investasi, pengelolaan aset, dan juga jasa konsultasi atau advisory. Mereka jelas bukan pemain baru.
Kini, tinggal menunggu waktu. Kuartal II 2026 menjadi batas waktu yang ditetapkan untuk menyelesaikan seluruh proses ini. Semua pihak tentu berharap tidak ada lagi kendala berarti.
Artikel Terkait
MNC Asset Management dan SF Sekuritas Gelar IG Live Bahas Investasi Syariah Jelang Ramadan
Astra Siap Bagikan Dividen Final Rp15,8 Triliun pada Pertengahan 2026
Harga Emas Pegadaian Naik Tipis, Galeri24 Tembus Rp3,06 Juta per Gram
GoTo Buka Suara Soal Investasi Google dan Posisi Nadiem Makarim