Pemerintah Pangkas Target Produksi Batu Bara, Kontraktor Tambang Terancam

- Senin, 16 Februari 2026 | 07:40 WIB
Pemerintah Pangkas Target Produksi Batu Bara, Kontraktor Tambang Terancam

MURIANETWORK.COM - Pemerintah berencana menurunkan target produksi batu bara nasional dari 790 juta ton pada 2025 menjadi 600 juta ton pada 2026. Kebijakan transisi energi ini, yang diikuti dengan pemangkasan kuota produksi (RKAB) bagi banyak penambang, berpotensi menjadi tantangan serius bagi industri, terutama perusahaan jasa kontraktor tambang. Tekanan ini semakin nyata di tengah pelemahan harga batu bara global akibat menurunnya permintaan dari pasar utama seperti China dan India.

Analisis Risiko dari Sisi Pasar

Dalam riset terbarunya, Sucor Sekuritas mengidentifikasi kebijakan pemerintah ini sebagai tekanan kebijakan yang jelas bagi sektor batu bara. Lembaga analis itu menilai, gelombang penyesuaian ini akan berdampak tidak merata. Perusahaan-perusahaan tambang besar dengan peran strategis dalam memenuhi kebutuhan dalam negeri (Domestic Market Obligation/DMO) dipandang lebih tahan banting.

“Berdasarkan laporan media dan panduan awal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM), sebagian besar penambang menghadapi pemangkasan kuota RKAB sebesar 9-80 persen dari level yang diajukan,” ungkap Sucor dalam risetnya.

Di antara emiten yang diperkirakan dapat mempertahankan tingkat produksi adalah PT Adaro Andalan Indonesia Tbk (AADI), PT Bumi Resources Tbk (BUMI), dan PT Indika Energy Tbk (INDY) melalui Kideco. Skala operasi dan komitmen pada DMO menjadi faktor pendorong ketahanan mereka.

Kontraktor Tambang di Garis Depan Tekanan

Berbeda dengan pemain besar, segmen jasa kontraktor tambang berada dalam posisi paling rentan. Perusahaan seperti PT Mandiri Herindo Adiperkasa Tbk (MAHA) diperkirakan akan merasakan dampak paling signifikan. Risiko ini diperparah oleh ketergantungan MAHA pada klien utamanya, PT Bayan Resources Tbk (BYAN), yang dikabarkan akan memangkas produksi secara drastis.

Sucor memaparkan, “Setiap penurunan volume hauling sebesar 1 juta ton dapat memangkas laba MAHA sekitar 9,8 persen.”

Tekanan serupa juga membayangi raksasa alat berat, PT United Tractors Tbk (UNTR), yang masih menggantungkan lebih dari separuh bisnisnya pada sektor batu bara. Penurunan volume pengupasan tanah penutup (overburden removal) di anak usahanya, PAMA, serta pelemahan permintaan alat berat, berpotensi menggerus laba perseroan.

Peluang di Balik Tantangan

Meski panorama industri tampak berawan, analis masih melihat titik terang pada emiten tertentu. Di tengah berbagai tekanan yang mengemuka, Sucor Sekuritas justru mempertahankan rekomendasi beli untuk AADI.

“Sebagai produsen batu bara murni dengan struktur biaya rendah, AADI dinilai berada pada posisi relatif lebih kuat,” jelas riset tersebut.

Kelebihan kompetitif berupa cash cost yang rendah, potensi imbal hasil dividen yang menarik, dan posisi yang siap menangkap keuntungan jika harga komoditas membaik, menjadi alasan utama optimisme terhadap prospek emiten ini ke depan. Analisis ini menunjukkan bahwa dalam lingkungan yang menantang, fundamental perusahaan yang kokoh dan efisiensi operasional menjadi kunci ketahanan.

Keputusan pembelian atau penjualan saham sepenuhnya berada di tangan investor.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar