Kedua, pasar global masih mencerna penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed oleh Donald Trump, sebuah keputusan yang menimbulkan ketidakpastian baru mengenai arah kebijakan moneter AS.
Faktor ketiga datang dari data inflasi inti AS per Januari 2026 yang tercatat 2,4 persen, lebih rendah dari perkiraan. Data ini memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral AS akan kembali melonggarkan kebijakan dengan menurunkan suku bunga, sebuah sentimen yang secara historis mendorong kenaikan harga emas.
Terakhir, aksi akumulasi cadangan emas secara besar-besaran oleh China, sebagai bagian dari strategi diversifikasi dari dolar AS, terus memberikan tekanan permintaan yang kuat. Meski demikian, Ibrahim juga mengingatkan bahwa pasar perlu mewaspadai potensi unsur spekulatif dalam lonjakan harga saat ini.
Emas Tetap Jadi Safe Haven dan Proyeksi Jangka Panjang
Di balik volatilitas harian, Ibrahim Assuaibi melihat tren mendasar yang solid. Tingginya permintaan emas untuk cadangan devisa negara, terutama dari China, membuktikan ketahanan logam mulia sebagai aset pelindung nilai utama dalam portofolio global.
Berdasarkan analisis fundamental dan pola permintaan tersebut, ia bahkan memberikan proyeksi jangka panjang yang optimistis. Ibrahim mengungkapkan, “Permintaan untuk logam mulia terus mengalami kenaikan, bahkan untuk mencapai akhir tahun mencapai harga USD 6.500 (per troy ons) kemungkinan akan terjadi.”
Proyeksi ini, meski ambisius, mencerminkan keyakinan bahwa kombinasi faktor geopolitik, moneter, dan permintaan strategis akan terus mendorong apresiasi harga logam kuning ini dalam beberapa bulan ke depan.
Artikel Terkait
MNC Digital Entertainment (MSIN) Targetkan Dual Listing di Bursa Internasional pada 2026
Laba Bersih MNC Digital Entertainment Melonjak 140% Jadi Rp985 Miliar di 2025
Wintermar Hentikan Program Buyback Lebih Cepat, Alihkan Sisa Dana untuk Operasional
Anabatic Technologies Catat Kenaikan Laba Bersih 13,2% Meski Pendapatan Turun