MURIANETWORK.COM - Pasar emas global dan domestik mengalami fluktuasi tajam pada pertengahan Februari 2026. Harga emas dunia mencatatkan posisi di level USD 5.042 per troy ons pada penutupan perdagangan Sabtu (14/2/2026), sementara harga emas Logam Mulia Antam di dalam negeri tercatat Rp 2.954.000 per gram. Proyeksi pergerakan harga ke depan sangat dipengaruhi oleh dinamika geopolitik dan kebijakan moneter Amerika Serikat.
Proyeksi Teknis dan Level Penting
Pengamat mata uang dan komoditas, Ibrahim Assuaibi, memberikan sejumlah skenario pergerakan harga untuk pekan mendatang. Analisis teknisnya menunjukkan level-level kritis yang patut diperhatikan oleh pelaku pasar.
Dalam risetnya yang dirilis Minggu (15/2/2026), Ibrahim memaparkan, “Jika turun lebih jauh, support kedua di 4.818 per troy ons dengan harga Logam Mulia Rp 2.860.000.”
Sebaliknya, dalam skenario penguatan, ia menetapkan target yang lebih tinggi. Ibrahim menambahkan, “Kalau harga emas dunia naik, resisten pertama di 5.134 per troy ons dengan harga Logam Mulia di Rp 3.000.000 per gram. Jika menembus resisten kedua di 5.245 per troy ons, harga Logam Mulia bisa mencapai Rp 3.150.000.”
Empat Faktor Fundamental Penggerak Harga
Menurut Ibrahim, gejolak harga yang terjadi tidak terlepas dari empat faktor fundamental yang saling berkaitan. Faktor pertama adalah eskalasi ketegangan geopolitik di Timur Tengah, menyusul pengiriman kapal induk tambahan AS yang dinilai sebagai persiapan serangan potensial.
Kedua, pasar global masih mencerna penunjukan Kevin Warsh sebagai calon Ketua The Fed oleh Donald Trump, sebuah keputusan yang menimbulkan ketidakpastian baru mengenai arah kebijakan moneter AS.
Faktor ketiga datang dari data inflasi inti AS per Januari 2026 yang tercatat 2,4 persen, lebih rendah dari perkiraan. Data ini memperkuat spekulasi bahwa Bank Sentral AS akan kembali melonggarkan kebijakan dengan menurunkan suku bunga, sebuah sentimen yang secara historis mendorong kenaikan harga emas.
Terakhir, aksi akumulasi cadangan emas secara besar-besaran oleh China, sebagai bagian dari strategi diversifikasi dari dolar AS, terus memberikan tekanan permintaan yang kuat. Meski demikian, Ibrahim juga mengingatkan bahwa pasar perlu mewaspadai potensi unsur spekulatif dalam lonjakan harga saat ini.
Emas Tetap Jadi Safe Haven dan Proyeksi Jangka Panjang
Di balik volatilitas harian, Ibrahim Assuaibi melihat tren mendasar yang solid. Tingginya permintaan emas untuk cadangan devisa negara, terutama dari China, membuktikan ketahanan logam mulia sebagai aset pelindung nilai utama dalam portofolio global.
Berdasarkan analisis fundamental dan pola permintaan tersebut, ia bahkan memberikan proyeksi jangka panjang yang optimistis. Ibrahim mengungkapkan, “Permintaan untuk logam mulia terus mengalami kenaikan, bahkan untuk mencapai akhir tahun mencapai harga USD 6.500 (per troy ons) kemungkinan akan terjadi.”
Proyeksi ini, meski ambisius, mencerminkan keyakinan bahwa kombinasi faktor geopolitik, moneter, dan permintaan strategis akan terus mendorong apresiasi harga logam kuning ini dalam beberapa bulan ke depan.
Artikel Terkait
Rupiah Menguat Tipis di Tengah Kekhawatiran Fiskal dan Data AS yang Beragam
BEI Cabut Status Papan Khusus Saham VISI, Perdagangan Normal Kembali 18 Februari 2026
Metland Smara Hotel Bekasi Rampung, Siap Hadirkan Restoran Rooftop 270 Derajat
Pemerintah Siapkan THR Lebaran 2026 Rp55 Triliun, Cair Awal Puasa