MURIANETWORK.COM - Harga minyak sawit mentah (CPO) mencatatkan pelemahan mingguan kedua berturut-turut hingga Jumat (13/2/2026), meski pada penutupan perdagangan hari itu terjadi penguatan tipis. Tekanan terhadap harga sepanjang pekan terutama bersumber dari melemahnya harga acuan di bursa internasional, proyeksi ekspor yang lebih rendah dari Malaysia, serta kekhawatiran atas permintaan dari China. Namun, lonjakan impor India yang signifikan berhasil memberikan penahanan terhadap tekanan jual yang lebih dalam.
Performa Harian dan Mingguan yang Berbeda
Di Bursa Malaysia Derivatives, kontrak CPO ditutup menguat 0,32 persen pada Jumat, berada di level 4.050 ringgit Malaysia per ton. Kenaikan harian ini, sayangnya, tidak cukup untuk membalikkan tren pekan ini. Secara kumulatif, harga masih terpangkas 2,48 persen, melanjutkan tren negatif dari minggu sebelumnya. Bahkan, dalam pergerakannya, harga sempat menyentuh level terendah dalam kurun empat pekan terakhir.
Faktor-Faktor Penekan Harga
Sejumlah faktor eksternal dan internal menjadi beban bagi sentimen pasar. Pelemahan harga minyak nabati di bursa acuan seperti Dalian dan Chicago menjadi pendorong utama. Di sisi fundamental, data pengapalan ekspor Malaysia untuk periode awal Februari menunjukkan penurunan yang cukup signifikan, berkisar antara 10,5 hingga 14,3 persen dibanding periode sebelumnya.
Kekhawatiran juga muncul dari pasar China, importir utama dunia. Data inflasi China yang lebih lunak dari perkiraan di bulan Januari, tepat menjelang libur Tahun Baru Imlek, memicu spekulasi mengenai lemahnya permintaan. Dari sisi kebijakan, keputusan Indonesia untuk menunda peningkatan mandatori biodiesel B40 turut memberi tekanan, di tengah ekspektasi bahwa produksi sawit global akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Penahanan dari Pasar India dan Kebijakan Malaysia
Di tengah awan mendung, datang kabar positif dari India yang berperan sebagai penahan laju pelemahan. Impor minyak sawit India pada Januari 2026 tercatat melonjak tajam, naik 51 persen secara bulanan ke level tertinggi dalam empat bulan. Pemulihan ini terjadi setelah impor pada Desember sebelumnya merosot cukup dalam.
Sementara itu, dari sisi regulator, pemerintah Malaysia telah menetapkan harga referensi CPO untuk bulan Maret. Meski harga acuan dinaikkan, keputusan untuk mempertahankan tarif bea ekspor di level 9 persen memberikan kejelasan bagi pelaku pasar dalam merencanakan kegiatan perdagangan mereka.
Artikel Terkait
Kemkomdigi Awasi Sidang Gugatan Rp3,3 Triliun Bali Towerindo ke Pemkab Badung
Saham BUMI Kuasai Pasar dengan Volume 50 Miliar Saham, Kontribusi ke IHSG Capai 17 Poin
Harga Minyak Menguat Tipis Didukung Data Inflasi AS yang Lebih Lunak
Investor Asing Lepas Saham Blue Chip, IHSG Tetap Cetak Penguatan