Kekhawatiran juga muncul dari pasar China, importir utama dunia. Data inflasi China yang lebih lunak dari perkiraan di bulan Januari, tepat menjelang libur Tahun Baru Imlek, memicu spekulasi mengenai lemahnya permintaan. Dari sisi kebijakan, keputusan Indonesia untuk menunda peningkatan mandatori biodiesel B40 turut memberi tekanan, di tengah ekspektasi bahwa produksi sawit global akan meningkat dalam beberapa bulan ke depan.
Penahanan dari Pasar India dan Kebijakan Malaysia
Di tengah awan mendung, datang kabar positif dari India yang berperan sebagai penahan laju pelemahan. Impor minyak sawit India pada Januari 2026 tercatat melonjak tajam, naik 51 persen secara bulanan ke level tertinggi dalam empat bulan. Pemulihan ini terjadi setelah impor pada Desember sebelumnya merosot cukup dalam.
Sementara itu, dari sisi regulator, pemerintah Malaysia telah menetapkan harga referensi CPO untuk bulan Maret. Meski harga acuan dinaikkan, keputusan untuk mempertahankan tarif bea ekspor di level 9 persen memberikan kejelasan bagi pelaku pasar dalam merencanakan kegiatan perdagangan mereka.
Artikel Terkait
Harga Minyak Dunia Melemah Didorong Rumor Perdamaian di Timur Tengah
Konflik Timur Tengah Pacu Harga Batu Bara, Saham Emiten di BEI Menguat
Analis MNC Sekuritas: IHSG Masih Rawan Koreksi ke Area 6.745
Impack Pratama Catat Kinerja 2025 Lebih Baik dari Target, Waspadai Tantangan 2026