MURIANETWORK.COM - Pengelola indeks global MSCI telah mengumumkan hasil tinjauan berkala (rebalancing) untuk Februari 2026, dengan dampak langsung terhadap beberapa saham Indonesia. Pengumuman yang dirilis pada Selasa (10/2/2026) ini menegaskan bahwa PT Indofood Sukses Makmur Tbk (INDF) akan dikeluarkan dari MSCI Global Standard Indexes, namun akan masuk kembali ke dalam indeks kategori kecil (Small Cap). Seluruh perubahan ini akan mulai berlaku efektif pada 2 Maret 2026 mendatang.
Rincian Perubahan Konstituen Indeks
Dalam pengumuman kali ini, pasar modal Indonesia tidak mencatatkan tambahan saham baru ke dalam MSCI Global Standard Indexes. Fokus pergerakan justru terjadi pada pergeseran antarkategori. INDF, yang sebelumnya tercatat di indeks utama, resmi diturunkan ke MSCI Small Cap Indexes. Di segmen yang sama, dua emiten lain, yaitu PT Aspirasi Hidup Indonesia Tbk (ACES) dan PT Sariguna Primatirta Tbk (CLEO), dikeluarkan dari daftar konstituen.
Sementara itu, untuk kategori MSCI Micro Cap Indexes, tidak ada perubahan sama sekali. Tidak satu pun saham Indonesia yang ditambahkan atau dihapus dalam tinjauan periode ini. Jadwal tinjauan berikutnya telah ditetapkan untuk Mei 2026, dengan pengumuman direncanakan pada 12 Mei dan efektif berlaku mulai 1 Juni 2026.
Latar Belakang Evaluasi yang Tidak Biasa
Analis pasar memandang hasil rebalancing kali ini tidak terlepas dari kondisi khusus yang melingkupi pasar modal Indonesia. Sebelumnya, pada akhir Januari 2026, MSCI telah menerapkan perlakuan sementara, termasuk membekukan penambahan saham baru ke dalam indeks pasar investabelnya (IMI).
Edi Chandren, Investment Analyst Lead Stockbit, menjelaskan bahwa kebijakan tersebut membatasi ruang gerak evaluasi. "Dengan kebijakan tersebut, evaluasi MSCI kali ini hanya mencakup penghapusan saham (deletions) dari indeks serta perpindahan turun antarsegmen ukuran, tanpa adanya penambahan konstituen baru," ungkapnya.
Tekanan Pasar dan Respons Otoritas
Sentimen terkait kebijakan MSCI sebelumnya telah menimbulkan gejolak di pasar domestik. Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) sempat terkoreksi tajam hingga 8 persen secara intraday pada akhir Januari lalu, bahkan memicu penghentian sementara perdagangan. Tekanan ini muncul setelah MSCI menyatakan akan menunda perubahan indeks hingga persoalan fundamental terkait konsentrasi kepemilikan saham dan tingkat free float yang rendah dituntaskan oleh regulator.
Menanggapi hal ini, otoritas pasar modal Indonesia bergerak cepat. BEI dan OJK segera membuka komunikasi intensif dengan MSCI dan mulai menindaklanjuti catatan kritis dari lembaga indeks tersebut. Salah satu langkah konkret yang diambil adalah merevisi aturan pengungkapan kepemilikan saham, dengan menurunkan ambang batasnya menjadi 1 persen dari sebelumnya 5 persen.
Dengan langkah-langkah korektif yang sedang berjalan, pasar kini menanti perkembangan lebih lanjut dari dialog antara otoritas Indonesia dan MSCI, sembari mencermati dampak jangka panjang dari perubahan komposisi indeks global ini terhadap likuiditas dan minat investor asing.
Artikel Terkait
IHSG Menguat Tipis ke 8.261,89 Didukung Sentimen Beli Luas
Medco Energi Ditunjuk Sebagai Operator Blok Migas Baru di Malaysia
Pasar Asia Menguat Meski Dihantui Data Ketenagakerjaan yang Lemah
IHSG Menguat Didukung Sentimen Beli di Mayoritas Sektor