Proyek di Mempawah bukan sekadar pembangunan fasilitas tunggal, melainkan penciptaan ekosistem industri yang utuh. Saat ini, Smelter Grade Alumina Refinery (SGAR) Fase I telah beroperasi, mengisi celah kritis dalam rantai pasok domestik dengan mengolah bauksit menjadi alumina. Pencapaian ini menjadi fondasi penting sebelum melangkah ke tahap lebih lanjut.
Melalui groundbreaking terbaru, pengembangan akan berlanjut dengan pembangunan Smelter Aluminium baru dan SGAR Fase II. Langkah strategis ini bertujuan memperkuat integrasi dari hulu ke hilir, memastikan nilai tambah dari setiap tahap produksi tetap maksimal di dalam negeri.
Kontribusi terhadap Peta Hilirisasi Nasional
Dorongan untuk mengembangkan hilirisasi tidak hanya bersifat lokal, tetapi juga merupakan bagian dari agenda nasional. Data investasi menunjukkan tren yang positif, dengan sektor ini menyumbang porsi yang semakin besar terhadap total investasi di Indonesia.
CEO BPI Danantara Rosan Roeslani menyoroti kontribusi yang terus membesar. “Jika kita lihat, kontribusi hilirisasi terus meningkat. Pada 2025, investasi hilirisasi mencapai Rp580,4 triliun atau sekitar 30 persen dari total investasi nasional, meningkat 43,3 persen dibandingkan tahun sebelumnya,” jelasnya.
Ke depan, pemerataan pengembangan hilirisasi ke berbagai wilayah, termasuk Kalimantan Barat, menjadi fokus. Kebijakan ini diharapkan dapat mendorong pertumbuhan ekonomi yang lebih inklusif dan berkelanjutan, mengoreksi konsentrasi industri yang selama ini terpusat di beberapa daerah tertentu. Proyek Mempawah menjadi salah satu contoh nyata bagaimana strategi tersebut diimplementasikan di lapangan.
Artikel Terkait
Harga Minyak Melonjak, Saham Migas Bergairah di Tengah Ketegangan Timur Tengah
Pemerintah Kurangi Hari Operasional Program Makan Bergizi Gratis demi Efisiensi
Laba Bersih CSRA Melonjak 27,7% Didorong Kenaikan Harga CPO
Saham Bakrie Melawan Arus, ENRG dan DEWA Catat Kenaikan Signifikan