Upaya hilirisasi petrokimia nasional kembali mendapat suntikan. Kali ini, dari Pertamina Group lewat afiliasinya, PT Polytama Propindo. Perusahaan ini mengandalkan pasokan propylene dari Kilang Pertamina RU VI Balongan untuk memproduksi polypropylene. Jadi, selain menghasilkan BBM, kilang Pertamina juga menelurkan produk antara yang vital bagi industri turunan.
Menurut Muhammad Baron, Vice President Corporate Communication PT Pertamina, peran ini bukan hal baru. "Kilang-kilang kami memang menghasilkan bahan baku penting," katanya. Upaya ini, lanjutnya, sejalan dengan strategi untuk meningkatkan nilai tambah sumber daya energi sekaligus memperkuat ketahanan industri dalam negeri.
"Eksistensi Pertamina melalui Polytama, menjadi bukti peran Pertamina dalam mendorong hilirisasi migas,"
ujar Baron dalam keterangan tertulisnya, Minggu (1/2).
Di sisi lain, Direktur PT Polytama Propindo, Dwinanto Kurniawan, menegaskan posisi perusahaannya dalam ekosistem besar Pertamina. Polytama, katanya, adalah bagian integral yang menghubungkan rantai dari hulu ke hilir.
“Polytama tidak berdiri sendiri. Kami merupakan bagian dari sistem industri nasional yang menghubungkan sektor hulu dan hilir, mulai dari kilang hingga ke industri manufaktur. Integrasi ini menjadi fondasi penting bagi ketahanan industri petrokimia Indonesia,”
ungkap Dwinanto.
Bagaimana alur pasokannya? Bahan baku propylene mengalir dari Kilang Balongan melalui jaringan pipa sepanjang kira-kira empat kilometer. Rata-rata, pasokannya mencapai 250 ribu ton per tahun. Nah, bahan baku ini kemudian diolah di Polytama dengan teknologi Spheripol dari LyondellBasell. Hasilnya? Polypropylene berkualitas yang siap diserap pasar.
Dan pasarnya luas. Produk polypropylene Polytama tersedia dalam berbagai grade untuk memenuhi beragam kebutuhan. Mulai dari sektor kemasan, peralatan rumah tangga, hingga industri kesehatan dan ritel. Bahan inilah yang nantinya diolah lagi menjadi berbagai produk plastik seperti alat makan, perabotan rumah tangga, sampai serat fiber untuk benang.
Kapasitas produksinya pun terus digenjot. Saat ini, Polytama mampu memproduksi hingga 300 ribu ton per tahun. Namun, rencananya akan ditingkatkan menjadi dua kali lipat, mencapai 600 ribu ton per tahun. Caranya? Dengan pengembangan fasilitas baru yang tentunya didukung pasokan bahan baku dari kilang-kilang Pertamina lain di Indonesia.
Baron menambahkan, strategi ini punya dampak yang signifikan. "Pemanfaatan propylene dari kilang Pertamina ini berperan strategis," tuturnya. Menurutnya, langkah ini bisa mengurangi ketergantungan impor bahan baku petrokimia. Pada akhirnya, yang diperkuat bukan hanya ketahanan industri nasional, tetapi juga nilai tambah dari sumber daya yang kita miliki di dalam negeri.
Artikel Terkait
Laba Bersih PTBA Melonjak 104,8 Persen di Kuartal I-2026 Meski Pendapatan Stagnan
Paradise Indonesia (INPP) Cetak Laba Rp44 Miliar di Kuartal I-2026, Segmen Komersial Jadi Motor Pertumbuhan
Wall Street Beragam di Tengah Reli Bulanan, S&P 500 dan Nasdaq Catat Kenaikan Terbaik Sejak 2020
Wall Street Berakhir Campur Aduk, S&P 500 Catat Kenaikan Bulanan Terbesar Sejak 2020