Istana Lantik Dewan Energi, Bursa Kolaps 8 Persen

- Kamis, 29 Januari 2026 | 05:30 WIB
Istana Lantik Dewan Energi, Bursa Kolaps 8 Persen

Rabu kemarin (28/1), dua peristiwa besar mendominasi pemberitaan: satu di istana, satu lagi di bursa. Di Istana Negara, suasana tampak khidmat. Sementara itu, di layar monitor para trader, warna merah mendominasi dengan penurunan yang cukup mengejutkan.

Prabowo Lantik Dewan Energi Nasional, Bahlil Ketua Harian-Purbaya Anggota

Presiden Prabowo Subianto secara resmi melantik anggota Dewan Energi Nasional untuk periode 2026-2030. Acara pelantikan berlangsung di Istana Negara, Rabu siang, berdasarkan Keputusan Presiden nomor 134/P tahun 2026 dan 6/P. Tim baru ini punya tugas berat: merancang peta jalan kebijakan energi nasional di tahun-tahun mendatang.

Harapannya jelas, DEN bisa memberi arah yang lebih pasti untuk ketahanan dan keberlanjutan energi Indonesia. Apalagi dinamika global seringkali tak terduga.

Struktur anggotanya sendiri menarik. Bahlil Lahadalia ditunjuk sebagai Ketua Harian. Sementara Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa juga masuk dalam keanggotaan. Tak cuma dari pemerintah, kursi DEN juga diisi perwakilan industri, ahli dari kampus, pakar teknologi, hingga pegiat lingkungan dan konsumen. Komposisi yang beragam ini dianggap penting. Tujuannya, agar setiap kebijakan yang nanti dirumuskan benar-benar menyentuh semua aspek, dari ekonomi hingga dampak sosial dan ekologis.

IHSG Anjlok 8 Persen, BEI Berlakukan Trading Halt

Di sisi lain, Bursa Efek Indonesia justru diguncang badai. IHSG kolaps, anjlok tajam 8 persen atau 718,441 poin ke level 8.261,78. Penurunan yang drastis ini langsung memicu aturan baru BEI: trading halt otomatis.

Ya, begitu indeks terkoreksi lebih dari 8 persen, perdagangan langsung dihentikan sementara. Ini pertama kalinya aturan itu diterapkan, dan gambarnya jelas: sentimen pasar sedang sangat negatif.

Lihat saja datanya. Dari ratusan saham yang diperdagangkan, cuma 28 yang untung. Sebaliknya, 768 saham lainnya terperosok dalam zona merah. Sisanya, delapan saham, flat. Volume perdagangan pun tinggi, mencapai Rp 45,39 miliar lembar dengan nilai transaksi Rp 31,9 triliun. Angka-angka itu menunjukkan tekanan jual yang luar biasa massif.

Memang, apa penyebab pastinya masih dianalisa. Bisa karena kekhawatiran pada kondisi makro, atau mungkin faktor eksternal yang bikin investor panik. Yang jelas, Rabu kemarin adalah hari yang cukup mencekam bagi para pemegang saham.

Editor: Yuliana Sari

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar