Berita tentang Donald Trump yang mengincar Greenland sempat ramai dibaca orang akhir pekan lalu. Gagasan itu terdengar aneh bagi sebagian orang, tapi ternyata ada alasan strategis yang serius di baliknya.
Lalu, ada juga kabar menarik dari dunia mainan. Siapa sangka, Tamagotchi yang legendaris itu justru bangkit kembali di usia ke-30 tahun. Sepertinya gelombang nostalgia memang punya kekuatan tersendiri.
Mengapa Trump Melirik Greenland?
Alasan utamanya sederhana: kekayaan alam. Greenland disebut-sebut punya cadangan logam tanah jarang atau Rare Earth Element (REE) yang sangat besar. Menurut laporan dari Center for Strategic and International Studies (CSIS), pulau itu menempati peringkat kedelapan dunia untuk cadangan tersebut, dengan total sekitar 1,5 juta ton.
Laporan yang dirilis awal Januari itu menjelaskan lebih detail.
“Greenland kaya akan sumber daya alam, termasuk bijih besi, grafit, tungsten, paladium, vanadium, seng, emas, uranium, tembaga, dan minyak. Namun, sumber daya yang paling menarik perhatian di kawasan ini adalah unsur tanah jarang,”
Faktanya, Greenland punya dua endapan REE terbesar di dunia, yaitu Kvanefjeld dan Tanbreez. Meski demikian, sampai sekarang belum ada aktivitas penambangan skala penuh yang berjalan di sana. Situasinya masih diam.
Kvanefjeld sendiri disebut-sebut sebagai endapan terbesar ketiga di dunia. Cadangannya diperkirakan lebih dari 11 juta metrik ton, dengan sekitar 370.000 metrik ton di antaranya merupakan unsur tanah jarang berat. Bahkan, ada estimasi yang menyebut total cadangan di sana bisa mencapai 28,2 juta metrik ton. Angka yang fantastis.
Tamagotchi Kembali Menghangat
Di sisi lain, dari dunia virtual, ada kebangkitan yang lebih ceria. Mainan digital asal Jepang, Tamagotchi, sedang naik daun lagi. Produsennya, Bandai Namco, mengumumkan bahwa total produksi global telah melampaui 100 juta unit. Mainan ini telah menyebar ke sekitar 50 negara, termasuk Indonesia, dengan 37 model berbeda sejak peluncuran pertamanya tahun 1996.
Kebangkitan kali ini sebenarnya adalah gelombang keempat. Gelombang pertama terjadi di era 90-an, saat antrean panjang dan kehabisan stok jadi pemandangan biasa. Lalu muncul lagi di 2004 berkat fitur inframerah, dan sekali lagi di 2008 ketika layar berwarna diperkenalkan.
Nah, tahun ini, semuanya berawal dari peluncuran model ke-37, Tamagotchi Paradise, pada Juli lalu. Versi terbaru ini memungkinkan konektivitas antar-pengguna. Karakter virtualnya bisa berinteraksi dengan lebih kompleks bertarung, membentuk keluarga, bahkan punya keturunan. Fitur-fitur baru itulah yang rupanya berhasil memperpanjang siklus hidup mainan ini dan menghidupkan kembali minat.
Dengan pameran khusus 30 tahun yang digelar di Tokyo pekan ini, Bandai Namco jelas berharap momentum ini terus berlanjut. Kombinasi nostalgia dan inovasi ternyata masih ampuh untuk menjaga waralaba mainan yang satu ini tetap relevan.
Artikel Terkait
Adaro Siapkan Rp5 Triliun untuk Buyback Saham, Tunggu Persetujuan RUPS 2026
YULE Naikkan Dividen ke Rp10 per Saham, Didukung Kinerja Keuangan 2025 yang Kuat
Pertamina Gas Rambah Bisnis Gas Industri dan Hidrogen, Ajukan Persetujuan ke RUPS
Laba Bersih Astra Graphia Melonjak 32%, Dividen Rp325 Miliar Disetujui