Ketegangan geopolitik antara Amerika Serikat dan Venezuela kembali jadi sorotan. Lantas, bagaimana dampaknya buat perekonomian dan sektor keuangan kita di Indonesia? Otoritas Jasa Keuangan (OJK) angkat bicara soal ini.
Menurut Mahendra Siregar, Ketua Dewan Komisioner OJK, para pelaku di industri jasa keuangan memang masih terus memantau perkembangan global. Risiko dari dinamika hubungan AS-Venezuela itu jadi perhatian serius, terutama terkait stabilitas politik dan pasar keuangan dunia.
“Namun dalam jangka pendek sampai saat ini dapat dilihat bahwa dampak langsungnya kepada Indonesia, dari kemungkinan pengaruh dari produksi dan harga minyak dunia maupun dari segi harga-harga komoditas utama ekspor Indonesia, itu tidak terlihat atau belum terlihat sama sekali dampak langsung seperti itu,”
Ucap Mahendra dalam Konferensi Pers RDKB, Jumat (9/1) lalu.
Meski begitu, kata dia, situasinya tetap nggak bisa dianggap enteng. Kewaspadaan harus dijaga, khususnya untuk jangka menengah ke depan. Soalnya, eskalasi ketegangan berpotensi besar bikin suasana jadi makin tidak pasti pertumbuhan ekonomi global bisa terpengaruh, stabilitas keuangan pun ikut goyah.
“Nah yang membuat tentu makin sulit adalah karena peristiwa tadi kembali membuktikan bahwa kondisi stabilitas politik yang disebabkan oleh pelanggaran kedaulatan dan wilayah suatu negara oleh negara lain itu dapat dilakukan tanpa sanksi yang setimpal yang malah justru makin kerap dilakukan di dunia belakangan ini,”
tutur Mahendra lagi.
Ia melihat sebuah pola yang mengkhawatirkan. Setelah konflik Rusia-Ukraina dan agresi Israel di Gaza, ketegangan di Venezuela ini seolah membuka kemungkinan ulangan peristiwa serupa di kawasan lain, termasuk Asia. Itu sebabnya kewaspadaan ekstra sangat diperlukan.
“Dan ini kami tentu meminta semua lembaga jasa keuangan untuk mencermati dan melakukan pemantauan yang intensif ya terhadap risiko-risiko ini, baik risiko pasarnya, risiko likuiditas, dan risiko kredit pembiayaan,”
tegasnya.
Latar belakang kekhawatiran ini makin kuat ketika melihat proyeksi ekonomi global. Sejumlah lembaga multilateral memprediksi pertumbuhan ekonomi dunia pada 2026 bakal di bawah 3 persen angka terendah sejak masa pandemi. Situasi geopolitik yang memanas jelas bisa memperburuk keadaan.
Jadi, apa simpulannya?
“Jadi singkatnya dalam jangka pendek belum terlihat dan terasa secara langsung. Dalam jangka menengah panjang harus kita waspadai terus,”
pungkas Mahendra. Intinya, waspada, pantau terus, meski untuk saat ini dampak langsungnya belum kelihatan.
Artikel Terkait
IHSG Dibuka Melemah Tipis ke Level 5.744, Mayoritas Sektor Tertekan
Harga Emas Antam Kembali Turun, Buyback Terkoreksi Rp40.000 per Gram
Tempo Scan Bagikan Dividen Rp676,48 Miliar untuk Tahun Buku 2025
Pabrik Amonia Banggai Kembali Beroperasi Penuh Usai Pemeliharaan Terjadwal