Bank of Japan menaikkan suku bunga kebijakannya ke level tertinggi dalam tiga puluh tahun terakhir, didesak oleh tekanan inflasi yang bandel di dalam negeri.
“Perbedaan arah kebijakan dari bank-bank sentral ini jelas mempengaruhi dinamika pasar keuangan global,” jelas Mahendra.
Pasar saham global secara umum bergerak menguat, merespons pemotongan suku bunga The Fed. Meski begitu, kekhawatiran akan gelembung di saham teknologi masih mengintai. Di sisi lain, kenaikan suku bunga di Jepang justru memicu pelemahan di pasar obligasi pemerintah global. Praktik "carry trade" yang dulu menopang pasar tersebut mulai berakhir.
Mahendra juga menyoroti dinamika geopolitik, khususnya di Venezuela, yang berpotensi menimbulkan gelombang ke pasar keuangan global. Namun di tengah semua gejolak eksternal itu, perekonomian domestik kita sendiri punya cerita yang cukup menggembirakan.
“Pada Desember 2025, inflasi inti domestik meningkat, sektor manufaktur masih ekspansif, dan kinerja eksternal terjaga dengan neraca perdagangan yang surplus,” sebutnya.
Tak lupa, Mahendra kembali menegaskan komitmen OJK terhadap para korban bencana. Debitur yang terdampak bencana alam di Sumatera akan tetap mendapatkan perlakuan khusus sesuai aturan yang berlaku dalam POJK Nomor 19 Tahun 2022.
“Lembaga jasa keuangan sudah melakukan pendataan terhadap debitur yang berhak,” tuturnya.
“Dan sebagian di antaranya sedang memproses penyusunan perjanjian restrukturisasi kredit bagi debitur yang terdampak.”
Artikel Terkait
BEI Resmi Delisting Saham Sritex Mulai 2026, Lo Kheng Hong Tercatat Sebagai Pemegang Saham
Analis Proyeksikan Guncangan Pasar Global, Rupiah Tertekan hingga Level 17.000
Harga Emas Antam di Pegadaian Naik Tipis, Dua Produk Lainnya Stabil
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 2,86 Juta per Gram