Bursa Venezuela Meledak, Politik Trump Jadi Pemicu?

- Kamis, 08 Januari 2026 | 14:36 WIB
Bursa Venezuela Meledak, Politik Trump Jadi Pemicu?

Bursa saham Venezuela benar-benar berulah. Rabu (7/1) kemarin, indeks utama mereka, IBC, meledak lagi. Naik tajam 14,42 persen ke level 4.458,84 poin. Kalau dilihat dari datanya, ini posisi tertinggi sejak 2017 lalu.

Hebatnya, ini bukan kenaikan satu-satunya. Sehari sebelumnya, Selasa, indeks yang berbasis di Caracas itu sudah melesat 50 persen dalam satu sesi! Rupanya, ini adalah lanjutan dari tren bullish yang sudah berlangsung beberapa hari. Sejak akhir Desember lalu, grafiknya cenderung hijau terus. Misalnya, Senin (19/12) naik 22 persen, lalu Jumat (2/1) setelah libur tahun baru, masih bertambah 7 persen.

Kalau dirata-rata, dalam sebulan terakhir kenaikannya hampir 200 persen. Gila, ya? Secara tahunan, angkanya bahkan lebih fantastis: melonjak 3.361,96 persen.

Lalu, apa penyebabnya? Semua ini terjadi di tengah gejolak politik yang dipicu oleh Presiden AS, Donald Trump. Aksi-aksinya terhadap Venezuela bisa dibilang keras. Mulai dari blokade kapal tanker, penangkapan Presiden Nicolas Maduro, sampai menyita 50 juta barel minyak mereka. Belum lama ini, Trump juga memaksa Venezuela membeli produk-produk AS dengan uang hasil penjualan minyaknya.

Nah, di tengah situasi seperti itu, pasar justru melihat peluang. Lonjakan IBC ini ditafsirkan sebagai sebuah titik balik. Mungkin saja arah kebijakan ekonomi Venezuela dan hubungannya dengan dunia internasional akan berubah. Optimisme itulah yang mendorong aksi beli besar-besaran, terutama pada saham-saham unggulan di bursa.

Fokus investor sekarang terbelah. Di satu sisi, mereka memperhatikan langkah-langkah berikutnya dari Gedung Putih. Di sisi lain, ada kabar kesepakatan minyak yang cukup mencengangkan. Konon, Caracas dan Washington sudah sepakat untuk ekspor minyak mentah senilai 2 miliar dolar AS. Kesepakatan ini muncul setelah serangan militer akhir pekan dan pernyataan AS soal keinginannya membeli Greenland.

Dampaknya di pasar global pun langsung terasa. Di awal perdagangan Asia Rabu itu, kontrak berjangka minyak mentah sempat melemah. Sebaliknya, saham-saham perusahaan sumber daya justru menguat. Pasar tampaknya masih mencerna, apa efek gejolak di Venezuela terhadap cadangan minyak global.

Pendapat dari dalam pasar cukup gamblang menggambarkan situasi ini.

“Harga kontrak berjangka minyak masih berada dalam tekanan setelah aksi jual pada akhir perdagangan kemarin, menyusul kabar bahwa Venezuela akan memberikan 30 hingga 50 juta barel minyak kepada AS,” ujar Dennis Kissler, Senior Vice President of Trading di BOK Financial, seperti dikutip Reuters.

Jadi, riuhnya bursa Venezuela ini bukan tanpa sebab. Ia adalah cermin dari sebuah negara yang sedang diguncang politik, namun justru dilihat pasar dengan cara yang sama sekali berbeda.

Editor: Dewi Ramadhani

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar