Meski begitu, Bahlil menekankan satu hal yang patut disyukuri: sepanjang tahun lalu, Indonesia sama sekali tidak melakukan impor gas. Padahal, dinamika di awal tahun sempat memunculkan rencana impor LNG hingga 40 kargo.
“Sekalipun di awal tahun terjadi dinamika yang tinggi untuk ada keinginan impor kurang lebih sekitar 40 kargo LNG di awal tahun, tapi berkat kerja keras kita semua, di tahun 2025 tidak ada kita melakukan impor gas,” tegasnya.
Lalu, ke mana produksi gas itu dialirkan? Bahlil menuturkan, pemanfaatan produksi gas bumi yang mencapai 5.600 BBTUD pada 2025 mayoritas sekitar 69 persen diserap untuk kebutuhan dalam negeri. Sisa 31 persennya diekspor.
“Gas dari total produksi kita, 31 persen kita ekspor, 69 persen untuk konsumsi domestik, dari 69 persen itu adalah hilirisasinya 37 persen,” tuturnya.
Jadi, gambaran umumnya begini: minyak berhasil melampaui target walau tipis, sementara gas masih perlu kerja ekstra. Tapi setidaknya, ketahanan energi dari sisi impor gas bisa dipertahankan. Itu pencapaian yang tak bisa dianggap remeh.
Artikel Terkait
Wall Street Beringsut di Tengah Data Tenaga Kerja dan Ketegangan Mahkamah Agung
Ultra Voucher Genjot Ekspansi, Targetkan Integrasi dengan Seluruh EDC BCA pada 2026
Empat Emiten Lepas Status Papan Khusus, Perdagangan Kembali Normal Pekan Depan
Menteri Keuangan Bahas Insentif untuk Merger Tiga Anak Usaha Pertamina