Di tengah semua gejolak politik itu, ada sedikit kabar yang menahan laju penurunan harga: stok minyak mentah AS ternyata menyusut. Laporan Badan Informasi Energi AS menunjukkan penurunan 3,8 juta barel menjadi 419,1 juta barel pada pekan yang berakhir 2 Januari. Padahal, analis justru memprediksi kenaikan sekitar 447 ribu barel.
Namun begitu, sinyal dari sisi produk olahan tak terlalu menggembirakan. Stok bensin AS melonjak 7,7 juta barel, jauh melampaui perkiraan kenaikan 3,2 juta barel. Begitu juga dengan persediaan distilat yang mencakup solar dan minyak pemanas naik 5,6 juta barel, lebih dari dua kali lipat ekspektasi analis.
Ke depan, pandangan para analis terbelah. Morgan Stanley, misalnya, memprediksi pasar minyak bisa mengalami surplus hingga 3 juta barel per hari pada paruh pertama 2026. Ini didorong oleh pertumbuhan permintaan yang lemas tahun lalu dan membanjirnya pasokan dari negara-negara OPEC dan non-OPEC.
Tapi, ada juga yang melihat sisi lain. Analis dari BMI, unit Fitch Solutions, punya pandangan menarik. Mereka menilai, kembalinya ekspor minyak Venezuela yang berbiaya produksi rendah justru bisa menghambat ekspansi produksi di AS dan negara produsen lain. Dalam catatan risetnya Rabu (7/1), mereka bahkan berpendapat hal ini bisa mendorong kenaikan harga dalam jangka menengah, terutama jika rezim saat ini di Venezuela bertahan.
Venezuela sendiri diketahui menjual minyak andalannya, Merey crude, dengan diskon yang curam sekitar 22 dolar AS di bawah harga Brent untuk pengiriman di pelabuhan domestiknya. Harga semurah itu tentu menjadi variabel baru yang akan mempengaruhi perhitungan semua pihak di pasar global.
Artikel Terkait
Harga Emas Antam di Pegadaian Naik Tipis, Dua Produk Lainnya Stabil
Harga Emas Antam Stagnan di Rp 2,86 Juta per Gram
Wall Street Fokus pada Laporan Keuangan di Tengah Ketegangan Timur Tengah
INET (Sinergi Inti Andalan Prima) Ekspansi ke Bisnis Perdagangan Peralatan Telekomunikasi