Harga minyak dunia kembali melemah, melanjutkan tren penurunan untuk hari kedua. Ini terjadi setelah pasar mencerna kabar mengejutkan dari Donald Trump. Presiden AS itu mengumumkan kesepakatan untuk mengimpor minyak mentah dari Venezuela senilai dua miliar dolar AS. Langkah ini, tentu saja, langsung dibaca investor sebagai sinyal bakal bertambahnya pasokan ke pasar terbesar dunia.
Di lantai bursa, angka-angka terlihat suram. Kontrak berjangka Brent anjlok 1,2 persen, terpangkas ke level USD59,96 per barel. Sementara itu, patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), malah lebih parah lagi: merosot dua persen ke posisi USD55,99.
Tekanan jual sebenarnya sudah terasa sejak sehari sebelumnya. Kedua patokan utama itu sudah kehilangan lebih dari satu dolar per barel. Pemicunya? Ekspektasi pasokan global yang melimpah di tahun ini. Kabar dari Trump soal Venezuela itu ibarat bensin yang ditambah ke dalam api.
Melalui unggahan media sosialnya pada Selasa, Trump menyebut Venezuela akan 'menyerahkan' sekitar 30 hingga 50 juta barel minyak yang sebelumnya terkena sanksi kepada Amerika Serikat.
“Kontrak berjangka minyak terus berada di bawah tekanan setelah aksi jual menjelang akhir perdagangan kemarin,” ujar Dennis Kissler, Wakil Presiden Senior Perdagangan di BOK Financial. “Ini menyusul kabar bahwa Venezuela akan menyerahkan antara 30 juta hingga 50 juta barel minyak ke AS.”
Menurut sumber Reuters, kesepakatan awal antara Washington dan Caracas kemungkinan akan melibatkan pengalihan kargo-kargo yang semula ditujukan untuk China. Venezuela memang diketahui punya stok menggunung jutaan barel yang sudah dimuat di tanker atau tersimpan di tangki. Tapi semua itu macet sejak pertengahan Desember lalu karena blokade ekspor yang justru diberlakukan oleh Trump sendiri.
Blokade itu adalah bagian dari tekanan AS terhadap pemerintahan Nicolas Maduro. Tekanan yang memuncak dengan penangkapan Maduro oleh pasukan AS akhir pekan lalu. Tidak terima, pejabat tinggi Venezuela menyebut aksi itu sebagai penculikan. Mereka menuduh AS berusaha mencuri cadangan minyak negeri mereka yang sangat besar.
Belum reda kontroversi penangkapan itu, AS kembali membuat gebrakan. Pada Rabu, mereka menyita sebuah kapal tanker kosong berbendera Rusia yang dikaitkan dengan Venezuela di tengah Samudra Atlantik. Situasinya semakin panas.
Di tengah semua berita buruk itu, ada secercah data yang sedikit menopang harga. Laporan dari Badan Informasi Energi AS (EIA) menunjukkan persediaan minyak mentah domestik AS turun 3,8 juta barel pekan lalu. Angka ini di luar perkiraan analis yang justru memprediksi kenaikan. Tapi, sayangnya, kabar baik itu tidak sendirian.
Stok bensin AS malah melonjak 7,7 juta barel, jauh melampaui proyeksi kenaikan. Begitu pula dengan persediaan distilat seperti solar dan minyak pemanas yang naik 5,6 juta barel. Artinya, permintaan riil mungkin tidak sekuat yang diharapkan.
Memandang ke depan, analis Morgan Stanley punya perkiraan yang suram. Mereka menyebut pasar minyak berpotensi mengalami surplus hingga 3 juta barel per hari pada paruh pertama 2026. Penyebabnya klasik: permintaan yang lesu tahun lalu, diiringi pasokan yang terus mengalir dari produsen OPEC dan non-OPEC.
Namun begitu, ada sudut pandang lain. Analis BMI, unit dari Fitch Solutions, melihat peluang lain dari minyak Venezuela yang berbiaya rendah. Mereka menilai, masuknya ekspor Venezuela bisa jadi justru menahan ekspansi produksi di AS dan negara lain. Selama ini, Venezuela menjual minyak Merey-nya dengan diskon sekitar USD22 per barel dibanding Brent.
“Hal itu justru meningkatkan ekspektasi harga minyak dalam jangka menengah,” tulis analis BMI, “terutama jika rezim Venezuela mampu bertahan.”
Jadi, di balik tekanan jual hari ini, ada dinamika yang lebih rumit sedang berlangsung. Perang geopolitik, pergeseran pasokan, dan permintaan yang fluktuatif semuanya beradu menentukan arah harga ke depan.
Artikel Terkait
BLUE Konfirmasi Akuisisi 80% Saham oleh Perusahaan Tambang Hong Kong
ASLC Bidik Pertumbuhan Dua Digit dengan Andalkan Mobil Bekas Jelang Mudik 2026
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil