Tekanan itu berpotensi bertambah berat setelah drama penangkapan Maduro. Banyak yang mempertanyakan, apakah langkah AS ini justru akan mempercepat pencabutan embargo minyak terhadap Venezuela? Jika iya, produksi minyak negara itu berpeluang bangkit kembali.
Arah kebijakan AS pun jadi bahan perdebatan hangat. Presiden Donald Trump bahkan menyebut perusahaan-perusahaan minyak AS siap berinvestasi untuk mendongkrak produksi dan ekspor Venezuela.
Menurut tiga sumber yang mengetahui rencana tersebut, para CEO perusahaan minyak AS diperkirakan akan mengunjungi Gedung Putih paling cepat Kamis ini. Agenda utamanya? Membahas peluang investasi di Venezuela.
Namun, membangkitkan industri minyak Venezuela bukan perkara mudah. Sektor ini sudah lama merana akibat minimnya investasi dan belitan sanksi. Produksinya tahun lalu rata-rata hanya 1,1 juta barel per hari jauh dari masa kejayaannya.
Janiv Shah dari Rystad Energy memperkirakan, dengan pendanaan terbatas, tambahan pasokan dari Venezuela dalam dua-tiga tahun ke depan mungkin cuma sekitar 300.000 barel per hari.
Sebagian pendanaan bisa ditanggung oleh perusahaan minyak negara, PDVSA. Tapi untuk mencapai target ambisius 3 juta barel per hari pada 2040, mereka mutlak butuh suntikan modal dari internasional.
Sementara itu, di dalam negeri AS sendiri, data stok minyak mentah mencatat penurunan 2,77 juta barel pekan lalu menurut laporan American Petroleum Institute. Tapi ini bukan cerita lengkapnya, karena stok bahan bakar justru naik.
Pandangan pasar kini tertuju pada data resmi pemerintah AS yang dijadwalkan rilis Rabu lalu. Menariknya, delapan analis yang disurvei Reuters justru memprediksi kenaikan sekitar 500.000 barel. Pada akhirnya, ketidakpastianlah yang menjadi satu-satunya kepastian di pasar minyak saat ini.
Artikel Terkait
Gubernur Fed Serukan Pemotongan Bunga 150 Bps untuk Dongkrak Lapangan Kerja
Harga Minyak Melonjak 3% Usai Gejolak Venezuela dan Ancaman Pasokan Global
Harga Minyak Melonjak 3% Dihantui Ketegangan di Venezuela hingga Timur Tengah
Pasar Batu Bara Global Terancam Surplus, Harga Diprediksi Terus Melemah