Donald Trump punya keyakinan besar soal industri minyak Venezuela. Menurut Presiden AS itu, perusahaan-perusahaan minyak Amerika bisa membangkitkan kembali operasi di sana kurang dari satu setengah tahun. Tapi, ya, butuh modal yang tidak main-main.
“Jumlah uang yang harus dikeluarkan akan sangat besar, dan perusahaan-perusahaan minyak akan mengeluarkannya,” ujar Trump dalam wawancara dengan NBC News, Rabu (7/1).
“Setelah itu mereka akan diganti oleh pemerintah AS atau melalui pendapatan.”
Intinya, janji penggantian biaya dari pemerintah atau proyeksi pendapatan masa depan itu dianggap Trump sebagai daya tarik utama. Itu yang bakal bikin perusahaan-perusahaan minyak mau bergerak.
Tapi soal angka pastinya, Trump enggan merinci. Berapa besar sebenarnya dana yang diperlukan untuk memperbaiki infrastruktur minyak Venezuela yang sudah tua itu? Dia tak mau sebut.
“Namun perusahaan-perusahaan minyak akan mendapatkan keuntungan besar. Dan negara itu juga akan mendapatkan manfaat,” katanya, singkat.
Di lapangan, optimisme Trump itu belum sepenuhnya dibalas gegap gempita. Perusahaan-perusahaan minyak justru terlihat lebih kalem, bahkan hati-hati. Mereka punya alasan: riwayat penyitaan aset oleh negara, sanksi AS yang masih menggantung, plus ketidakstabilan politik yang belum reda. Semua itu bikin mereka berpikir dua kali untuk masuk atau menambah investasi.
Trump punya argumen lain. Dia yakin, kalau cadangan minyak Venezuela bisa dimanfaatkan, harga minyak dunia bakal turun. Saat ini saja, harga bensin di AS sudah ada di titik terendah dalam beberapa tahun terakhir.
Data AAA mencatat, rata-rata harga per galon pada Senin (5/1) adalah USD 2,81 level terendah sejak Maret 2021.
“Memiliki Venezuela sebagai negara produsen minyak itu baik bagi Amerika Serikat karena dapat menjaga harga minyak tetap rendah,” tegas Trump.
Namun begitu, ada paradoks di sini. Harga minyak yang rendah memang menyenangkan bagi konsumen di SPBU, tapi di saat bersamaan bisa memangkas pendapatan perusahaan minyak besar. Padahal, dari perusahaan-perusahaan itulah Trump berharap datangnya investasi miliaran dolar untuk membangun kembali industri Venezuela.
Lalu, apakah perusahaan-perusahaan minyak dapat ‘pengarahan’ sebelum operasi militer menangkap Presiden Venezuela yang digulingkan, Nicolás Maduro, pada Sabtu (3/1) lalu? Trump bilang tidak. Tapi konsepnya sudah dibicarakan.
“Perusahaan-perusahaan minyak sepenuhnya sadar bahwa kami sedang mempertimbangkan untuk melakukan sesuatu. Tetapi kami tidak memberi tahu mereka bahwa kami akan benar-benar melakukannya,” tuturnya.
Kepada NBC News, Trump juga mengaku belum bisa memastikan apakah dia sudah berbicara langsung dengan pucuk pimpinan tiga raksasa minyak AS: ExxonMobil, Chevron, dan ConocoPhillips. “Saya berbicara dengan semua orang,” ujarnya, singkat dan samar.
Respons dari ketiga perusahaan itu beragam. ConocoPhillips menolak berkomentar soal rencana Trump. Chevron tak mau berspekulasi tentang investasi masa depan. Sementara Exxon, sama sekali belum memberi tanggapan.
Menurut kabar yang beredar, Menteri Energi AS Chris Wright akan bertemu dengan eksekutif Exxon dan ConocoPhillips pekan ini. Pertemuan ini dikabarkan Bloomberg News untuk membahas masa industri minyak Venezuela. Seorang pejabat Gedung Putih menyebut Wright akan jadi tokoh kunci dalam kampanye pemerintahan Trump untuk membangun kembali infrastruktur minyak di negara tersebut.
Pemerintahan Trump sendiri terus bersikukuh. Mereka klaim industri minyak AS sangat ingin kembali ke Venezuela, meski hampir dua dekade lalu negara itu menasionalisasi aset perusahaan asing senilai miliaran dolar.
“Mereka sangat ingin masuk ke sana,” kata Trump kepada wartawan pada Minggu (4/1) malam.
Cadangan minyaknya memang luar biasa besar. Tapi sejarah memberikan pelajaran pahit. Pada era 1970-an, pemerintah Venezuela mengambil alih aset energi, termasuk milik ExxonMobil dan ConocoPhillips. Upaya hukum kedua perusahaan untuk mendapatkan ganti rugi miliaran dolar nyaris tak membuahkan hasil.
Giliran pada 2006 dan 2007, nasionalisasi kembali terjadi di bawah Hugo Chávez. Perusahaan asing boleh tetap beroperasi, tapi dengan syarat yang kurang menguntungkan. Exxon dan ConocoPhillips memilih hengkang sepenuhnya.
Chevron beda cerita. Mereka bertahan sampai sekarang, berkat pengecualian terbatas dari sanksi AS. Sementara itu, CEO ExxonMobil Darren Woods menyuarakan kehati-hatian.
“Kami telah mengalami pengambilalihan aset di Venezuela sebanyak dua kali. Kami harus melihat seperti apa kelayakan ekonominya,” katanya kepada Bloomberg News November lalu, ketika ditanya tentang kemungkinan kembali ke Venezuela.
Jadi, antara keinginan politik dan realitas bisnis, tampaknya masih ada jarak yang cukup jauh. Trump mungkin optimis, tapi para pelaku industri punya memori yang panjang.
Artikel Terkait
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global
IHSG Melonjak 1,03% di Awal Pekan, Mayoritas Sektor Berada di Zona Hijau