Wall Street kembali menunjukkan taringnya. Pada Selasa (6/1) lalu, bursa saham AS ditutup dengan catatan hijau yang cukup solid. Optimisme terhadap masa depan Artificial Intelligence (AI) jadi bahan bakar utama, mendorong saham-saham chip melesat tinggi. Tak ketinggalan, saham Moderna juga meroket dan ikut mendongkrak sentimen.
Indeks Dow Jones Industrial Average berhasil mencetak rekor tertinggi baru, naik 0,99 persen ke level 49.462,08. Posisinya kini sudah sangat dekat dengan level psikologis 50.000 yang ditunggu-tunggu banyak pelaku pasar. Di sisi lain, S&P 500 menguat 0,62 persen, sementara Nasdaq Composite bertambah 0,65 persen.
Lonjakan saham Moderna hampir mencapai 11 persen. Pemicunya adalah kenaikan target harga dari BofA Global Research. Aksi beli di saham perusahaan farmasi itu turut mengerek indeks sektor kesehatan S&P 500 naik hampir 2 persen.
Tapi, sorotan utama tetap pada sektor teknologi. Di ajang Consumer Electronics Show (CES) di Las Vegas, CEO Nvidia Jensen Huang memaparkan detail teknologi penyimpanan data terbaru. Presentasinya itu langsung disambut antusias oleh pasar.
Buktinya? Saham SanDisk melonjak lebih dari 27 persen. Western Digital naik 17 persen, disusul Seagate Technology dan Micron Technology yang masing-masing menguat 14 dan 10 persen. Keempatnya sama-sama mencatatkan rekor harga tertinggi sepanjang masa. Indeks saham chip Philadelphia SE Semiconductor bahkan naik 2,75 persen dalam sehari saja.
Menurut Jed Ellerbroek, manajer portofolio Argent Capital, prospek untuk perusahaan teknologi besar terlihat cerah.
"Musim laporan keuangan Big Tech diperkirakan akan sangat kuat. Bahkan, proyeksi belanja modal mereka kemungkinan besar akan direvisi naik lagi," ujarnya.
Namun begitu, ada beberapa hal yang masih jadi perhatian investor. Valuasi saham di Wall Street masih terbilang mahal. Indeks S&P 500 saat ini diperdagangkan sekitar 22 kali estimasi laba, angka yang masih di atas rata-rata historisnya. Selain itu, pasar kini menanti data ekonomi yang lebih akurat setelah keributan shutdown pemerintah federal AS selama 43 hari mulai mereda. Data ketenagakerjaan Desember nanti akan jadi penentu; angka yang lemah bisa memperkuat peluang The Fed memangkas suku bunga.
Di meja trader, volume perdagangan terpantau tinggi, mencapai 18,7 miliar saham. Sinyal dari data riil pun kurang menggembirakan: indeks PMI gabungan S&P Global untuk Desember tercatat melemah.
Pernyataan pejabat The Fed juga saling bersilangan. Presiden The Fed Richmond, Tom Barkin, bersikap hati-hati soal pemotongan suku bunga lanjutan. Sikap ini berbeda dengan Gubernur The Fed Stephen Miran yang sebelumnya terdengar lebih agresif.
Menariknya, gejolak geopolitik justru cenderung diabaikan. Penangkapan Presiden Venezuela Nicolas Maduro oleh pasukan AS malah dilihat sebagai pintu pembuka bagi perusahaan AS untuk mengakses cadangan minyak negara tersebut. Alhasil, saham sektor energi justru melemah setelah sebelumnya rally, dengan Chevron dan Exxon Mobil terpuruk.
Efek dari komentar Jensen Huang ternyata tidak melulu positif. Pernyataannya soal efisiensi chip baru justru memicu kekhawatiran terhadap permintaan sistem pendingin data center. Saham Johnson Controls dan Trane Technologies pun ikut tertekan.
Berita buruk juga datang dari AIG. Saham perusahaan asuransi raksasa itu anjlok 7,5 persen setelah mengumumkan pengunduran diri CEO-nya, Peter Zaffino.
Secara keseluruhan, suasana pasar masih didominasi optimisme. Jumlah saham yang naik di indeks S&P 500 jauh lebih banyak daripada yang turun, dengan rasio lebih dari 3 banding 1. Banyak saham yang mencapai puncak baru, sinyal bahwa bullish momentum masih cukup kuat untuk sementara waktu.
Artikel Terkait
Direktur Utama MDTV, Lie Halim, Mundur Jelang Akhir Masa Jabatan
Harga Emas Antam Naik Rp16.000 per Gram, Pesaing Tetap Stabil
IHSG Diproyeksi Bergerak Tak Menentu, Terjepit Sentimen Lokal dan Global
IHSG Melonjak 1,03% di Awal Pekan, Mayoritas Sektor Berada di Zona Hijau