Laporan Ketenagakerjaan AS Buka Gerbang Sentimen Pasar di Awal 2026

- Senin, 05 Januari 2026 | 06:45 WIB
Laporan Ketenagakerjaan AS Buka Gerbang Sentimen Pasar di Awal 2026

Pekan pertama 2026 bakal diwarnai sejumlah agenda ekonomi krusial. Sentimen pasar, tentu saja, akan sangat bergantung pada hasil-hasilnya. Salah satu yang paling dinanti adalah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat, yang jadwal rilisnya pada 9 Januari.

Data dari AS itu nantinya akan jadi bahan pertimbangan penting bagi Federal Reserve. Soalnya, sepanjang 2025, kekhawatiran pasar tenaga kerja yang melemah ternyata cukup kuat mendorong The Fed untuk memangkas suku bunga. Itu terjadi dalam tiga pertemuan terakhir mereka tahun lalu. Bank sentral AS memang punya tugas berat: menyeimbangkan target lapangan kerja penuh dengan inflasi yang tetap terkendali.

Namun begitu, situasinya tak semudah itu. Beberapa pejabat The Fed rencananya akan berpidato pekan ini, dan pandangan di antara mereka sendiri terbelah. Pertemuan bulan Desember lalu menunjukkan perbedaan pendapat soal arah kebijakan moneter ke depan. Masalahnya, inflasi AS masih bertengger di atas target tahunan 2 persen yang mereka canangkan.

Dengan suku bunga acuan sekarang di kisaran 3,5–3,75 persen, pasar memprediksi peluang pemotongan suku bunga pada pertemuan akhir Januari sangat kecil. Tapi, situasinya bisa berubah. Kontrak berjangka Fed funds menunjukkan kemungkinan hampir 50 persen untuk ada pemangkasan seperempat poin pada Maret nanti.

Perhatian tak cuma tertuju ke AS. Di Eropa, data inflasi awal untuk Desember akan jadi sorotan utama. Zona Euro, Jerman, Prancis, dan Italia semuanya akan merilis angka preliminernya.

Perkiraannya, inflasi Zona Euro akan stabil di 2,1%. Prancis dan Italia diprediksi masing-masing 0,9% dan 1,1%. Sementara Jerman, inflasinya diperkirakan melambat jadi 2,0%, turun dari posisi sebelumnya 2,3%.

Lalu, ada China. Negeri Tirai Bambu itu juga akan merilis sederet indikator makro pekan ini. Salah satunya adalah PMI Jasa untuk Desember, yang secara luas diperkirakan turun tipis ke level 52,0.

Angka itu menandai moderasi untuk bulan keempat berturut-turut. Meski melambat, posisinya masih solid di wilayah ekspansi, didukung kebijakan pemerintah yang terus berlanjut. Di sisi lain, inflasi konsumen China diperkirakan melandai, sementara harga produsen diprediksi kembali mengalami penurunan.

Tak ketinggalan, Jepang akan merilis data agregat laba perusahaan. Dan dari dalam negeri sendiri, kita juga punya agenda penting.

Badan Pusat Statistik (BPS) dijadwalkan merilis data resmi, mulai dari inflasi hingga ekspor-impor, tepat hari ini, 5 Januari. Data-data inilah yang nantinya akan membentuk narasi ekonomi global di awal tahun.

Editor: Agus Setiawan

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar