Pekan pertama 2026 bakal diwarnai sejumlah agenda ekonomi krusial. Sentimen pasar, tentu saja, akan sangat bergantung pada hasil-hasilnya. Salah satu yang paling dinanti adalah laporan ketenagakerjaan Amerika Serikat, yang jadwal rilisnya pada 9 Januari.
Data dari AS itu nantinya akan jadi bahan pertimbangan penting bagi Federal Reserve. Soalnya, sepanjang 2025, kekhawatiran pasar tenaga kerja yang melemah ternyata cukup kuat mendorong The Fed untuk memangkas suku bunga. Itu terjadi dalam tiga pertemuan terakhir mereka tahun lalu. Bank sentral AS memang punya tugas berat: menyeimbangkan target lapangan kerja penuh dengan inflasi yang tetap terkendali.
Namun begitu, situasinya tak semudah itu. Beberapa pejabat The Fed rencananya akan berpidato pekan ini, dan pandangan di antara mereka sendiri terbelah. Pertemuan bulan Desember lalu menunjukkan perbedaan pendapat soal arah kebijakan moneter ke depan. Masalahnya, inflasi AS masih bertengger di atas target tahunan 2 persen yang mereka canangkan.
Dengan suku bunga acuan sekarang di kisaran 3,5–3,75 persen, pasar memprediksi peluang pemotongan suku bunga pada pertemuan akhir Januari sangat kecil. Tapi, situasinya bisa berubah. Kontrak berjangka Fed funds menunjukkan kemungkinan hampir 50 persen untuk ada pemangkasan seperempat poin pada Maret nanti.
Perhatian tak cuma tertuju ke AS. Di Eropa, data inflasi awal untuk Desember akan jadi sorotan utama. Zona Euro, Jerman, Prancis, dan Italia semuanya akan merilis angka preliminernya.
Artikel Terkait
Prabowo dan Trump Siap Teken Kesepakatan Dagang Akhir Januari
Libur Panjang Nataru, Konsumsi Bensin Hanya Naik Tipis: Tanda Pergeseran Pola Mobilitas?
MEJA Siapkan Rp 1,6 Triliun untuk Rebut 45% Saham Tambang Batu Bara di Banyuasin
Minyak Melimpah, Utang Menumpuk: Venezuela Terjepit di Tengah Sanksi dan Perebutan Citgo