Gejolak Global Tak Kuasa Dongkrak Harga Minyak yang Terpuruk

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 21:36 WIB
Gejolak Global Tak Kuasa Dongkrak Harga Minyak yang Terpuruk

Perdagangan minyak dunia mengawali tahun 2026 dengan catatan merah. Pada Jumat (2/1) waktu AS, harga minyak mentah justru melemah. Brent turun tipis 10 sen ke USD 60,75 per barel. Sementara itu, patokan AS, West Texas Intermediate (WTI), juga tertekan ke level USD 57,32 per barel.

Ini bukan sekadar penurunan biasa. Menurut pantauan Reuters, Sabtu (3/1), awal tahun ini mencatatkan pelemahan terdalam sejak 2020. Sentimen pasar sedang muram. Di satu sisi, kekhawatiran pasokan berlebih masih membayangi. Di sisi lain, sejumlah risiko geopolitik yang bergejolak justru belum cukup mendongkrak harga.

Lanskap geopolitik memang terasa panas. Di Eropa Timur, perang antara Rusia dan Ukraina belum menunjukkan tanda-tanda reda. Meski upaya dialog untuk mengakhiri konflik hampir empat tahun itu terus berjalan, situasi di lapangan tetap tegang.

Kedua pihak saling tuduh menyerang warga sipil di momen tahun baru. Tidak hanya itu, Ukraina disebut semakin gencar menargetkan infrastruktur energi Rusia. Tujuannya jelas: memutus aliran dana untuk mesin perang Moskow.

Tekanan lain datang dari Amerika Latin. Pemerintahan Trump semakin memperketat sikap terhadap Venezuela. Mereka baru saja menjatuhkan sanksi pada empat perusahaan plus sejumlah kapal tanker yang diduga aktif di sektor minyak negara itu.

Namun begitu, respons Caracas cukup menarik. Presiden Nicolas Maduro justru menyatakan keterbukaan terhadap investasi AS dan kerja sama memberantas narkoba. Ia bahkan mengaku siap untuk pembicaraan serius dengan Washington.

Gelombang kejutan terjadi pada Sabtu (3/1). Ibu kota Venezuela, Caracas, dilaporkan dibom oleh AS. Dalam waktu yang hampir bersamaan, pasukan elite Delta Force berhasil menangkap Maduro beserta istrinya. Aksi dramatis ini, sayangnya, belum langsung berdampak pada pasar minyak yang sedang libur akhir pekan.

Ketegangan juga merambah ke Timur Tengah. Trump tak segan mengeluarkan ancaman, akan membantu demonstran di Iran jika protes yang telah berlangsung beberapa hari itu ditindak keras oleh aparat. Gelombang protes ini sendiri dinilai sebagai ancaman domestik terberat bagi Teheran dalam beberapa tahun terakhir.

Belum lagi perseteruan antara Arab Saudi dan Uni Emirat Arab terkait konflik Yaman yang kian runyam. Memburuknya hubungan itu ditandai dengan dihentikannya seluruh penerbangan di Bandara Aden.


Halaman:

Komentar