Peta persaingan mobil listrik global baru saja berubah. Untuk pertama kalinya, Tesla harus rela menyerahkan mahkota penjualan mobil listrik terbesar di dunia. Yang mengambil alih? Raksasa otomotif asal China, BYD. Pergeseran dramatis ini terjadi sepanjang 2025, didorong oleh momentum penjualan BYD yang tak terbendung, sementara Tesla justru mengalami penurunan.
Menurut laporan The Guardian awal Januari, BYD berhasil menjual 2,26 juta unit mobil listrik murni (BEV) tahun lalu. Angka itu jauh melampaui catatan Tesla yang hanya mengirimkan 1,63 juta unit pada periode sama. Bukan selisih yang kecil.
Ini jelas jadi penanda penting. Pusat gravitasi industri mobil listrik kini bergeser dengan cepat ke China. Produsen-produsen lokal sana tak cuma fokus di pasar domestik, mereka agresif menjangkau pasar global, memanfaatkan momen transisi energi ini. BYD memimpin, diikuti nama-nama seperti SAIC dan Chery dengan merek Omoda serta Jaecoo. Ekspor mereka terus meroket.
Namun begitu, pasar global sendiri sedang tidak mudah. Pertumbuhan penjualan mobil listrik memang masih ada, tapi lajunya melambat dalam dua tahun terakhir. Situasi ini memicu perang harga yang sengit. Beberapa pemerintah pun mulai meninjau ulang target dan insentif peralihan ke kendaraan ramah lingkungan.
Lalu, apa yang terjadi dengan Tesla? Performa mereka di 2025 tertekan oleh beberapa hal. Subsidi kendaraan listrik di AS dicabut, regulasi emisi yang tadinya mendukung juga dilonggarkan. Itu berdampak pada permintaan. Belum lagi sentimen konsumen yang agak dingin menyusul sikap politik kontroversial Elon Musk di akhir 2024. Semuanya berimbas.
Buktinya, di kuartal terakhir 2025, pengiriman Tesla anjlok ke 418.200 unit. Angka ini di bawah ekspektasi analis dan turun 9% secara tahunan dibanding 2024.
Perusahaan sebenarnya sudah merilis estimasi konsensusnya sendiri mendekati akhir tahun, seperti upaya mengantisipasi berita buruk. Bloomberg sebelumnya memproyeksikan angka sekitar 441.000 unit. Tapi kenyataannya lebih suram.
Tekanan itu langsung terasa di bursa. Saham Tesla terpangkas 1% pada perdagangan Jumat, dan secara total melemah sekitar 8% sejak malam Natal. Ini jadi tahun kedua berturut-turut penjualan tahunan mereka menyusut.
Meski demikian, jangan salah. Tesla tetaplah raksasa. Kapitalisasi pasarnya masih sekitar USD 1,4 triliun, membuatnya jadi produsen mobil paling bernilai di dunia. Banyak investor yang masih bertahan, berharap pada proyek masa depan perusahaan: teknologi kendaraan otonom, AI, dan robotika.
Mereka sudah mulai uji coba layanan robotaxi terbatas di Austin, Texas. Tapi persaingan di bidang ini juga semakin panas, terutama dari China. BYD sendiri punya sistem bantuan mengemudi canggih bernama “God’s Eye”, yang sudah dipasang di mobil-mobil listrik harganya terjangkau. Jadi, pertarungannya akan berlanjut.
Di sisi lain, BYD justru mencatat pertumbuhan penjualan mobil listrik murni sebesar 28% sepanjang 2025. Memang ada pelemahan di bulan Desember, tapi secara keseluruhan kinerjanya solid. Perusahaan yang didirikan Wang Chuanfu pada 1995 ini awalnya cuma produsen baterai. Kini, mereka mendominasi.
Totalnya, BYD menjual 4,55 juta kendaraan tahun lalu. Untuk plug-in hybrid, penjualannya turun 8% jadi 2,29 juta unit. Tapi, yang menarik justru di segmen kendaraan komersial. Penjualan bus dan truk listrik mereka melonjak lebih dari dua kali lipat, mencapai 57.000 unit. Mereka tak cuma unggul di mobil penumpang.
Jadi, ini bukan sekadar soal angka. Ini tentang perubahan kekuatan yang nyata. Tesla masih punya cahaya, tapi BYD dan China kini yang memegang kendali di pasar yang paling dinanti itu.
Artikel Terkait
Pemegang Saham Utama Panca Global Kapital Kembali Divestasi 4,45% Saham
OJK Jatuhkan Denda Miliaran Rupiah ke Influencer dan Pelaku Manipulasi Saham
DPR dan Pemerintah Pacu Program Rumah MBR, Anggaran Naik Rp10,89 Triliun
Bitcoin Turun Usai Rilis Notulensi FOMC, Analis Sebut Koreksi Wajar