Proteksionisme Ala Trump: Ambisi dan Realita
Kebijakan tarif tinggi Trump, yang digaungkan sejak 2025, memang punya target ambisius. Dia klaim langkah proteksionisme ini yang disebut-sebut sebagai yang tertinggi dalam hampir seratus tahun bisa mengisi kas pemerintah. Selain itu, tujuannya adalah memangkas defisit perdagangan kronis AS dan mendorong industri dalam negeri.
Di satu sisi, target pendapatan tampaknya tercapai. Pajak impor disebut menyumbang tambahan pendapatan sekitar 30 miliar dolar AS per bulan pada akhir 2025. Hasilnya cukup gemuk untuk kas negara.
Namun begitu, cerita untuk defisit perdagangan tak semulus itu. Angkanya fluktuatif, naik-turun drastis, dan belum benar-benar stabil. Faktanya, kemenangan Trump justru memicu gelombang impor besar-besaran di awal tahun. Banyak perusahaan AS buru-buru memborong barang dari luar negeri sebelum tarif baru benar-benar diterapkan. Setelah gelombang awal itu reda, defisit perdagangan memang mulai turun lagi. Tapi apakah ini tren yang berkelanjutan? Masih jadi tanda tanya besar.
Artikel Terkait
DSSA Melonjak 170%, GEMS Anjlok: Kisah Dua Wajah Saham Sinar Mas di 2025
Geliat Pajak 2026: 8.160 Wajib Pajak Sudah Lapor di Tiga Hari Pertama
Harga Emas Antam Anjlok Rp16.000 di Awal Tahun
Empat Bulan Pasca-Kobaran, Pedagang Taman Puring Bertahan di Pinggir Jalan