Trump Tunda Kenaikan Tarif Furnitur, Tekanan Harga Pengaruhi Kebijakan

- Sabtu, 03 Januari 2026 | 10:12 WIB
Trump Tunda Kenaikan Tarif Furnitur, Tekanan Harga Pengaruhi Kebijakan

Di tengah pesta Tahun Baru di Mar-a-Lago, Florida, Donald Trump justru mengumumkan keputusan yang cukup mengejutkan. Presiden AS itu memutuskan untuk menunda kenaikan tarif impor untuk sejumlah produk furnitur. Kebijakan yang semula akan berlaku mulai 1 Januari ini, akhirnya ditangguhkan hingga tahun 2027.

Lembar fakta dari Gedung Putih yang dirilis Rabu malam (31/12) waktu setempat mengonfirmasi penundaan ini. Produk yang terkena dampak antara lain furnitur berlapis kain, lemari dapur, dan meja rias. Alasan di baliknya? Tekanan dari pemilih yang masih mengeluhkan harga barang yang terlampau tinggi.

Sebenarnya, rencananya sudah matang. Berdasarkan pemberitahuan September lalu, tarif untuk furnitur kayu berlapis akan naik dari 25% menjadi 30%. Sementara itu, lemari dapur dan kabinet kamar mandi bakal ditarif hingga 50%. Namun, pemberitahuan terbaru membatalkan jadwal itu. Untuk sementara, tarif akan bertahan di angka 25%.

Gedung Putih memberi sinyal bahwa negosiasi dengan mitra dagang masih berjalan. Mereka menyebut adanya pembicaraan konstruktif soal prinsip timbal balik dan isu keamanan nasional, khususnya untuk impor produk kayu.

Ini mengindikasikan bahwa kesepakatan baru masih mungkin terjadi, yang bisa mengubah lagi peta kebijakan tarif ke depannya.

Proteksionisme Ala Trump: Ambisi dan Realita

Kebijakan tarif tinggi Trump, yang digaungkan sejak 2025, memang punya target ambisius. Dia klaim langkah proteksionisme ini yang disebut-sebut sebagai yang tertinggi dalam hampir seratus tahun bisa mengisi kas pemerintah. Selain itu, tujuannya adalah memangkas defisit perdagangan kronis AS dan mendorong industri dalam negeri.

Di satu sisi, target pendapatan tampaknya tercapai. Pajak impor disebut menyumbang tambahan pendapatan sekitar 30 miliar dolar AS per bulan pada akhir 2025. Hasilnya cukup gemuk untuk kas negara.

Namun begitu, cerita untuk defisit perdagangan tak semulus itu. Angkanya fluktuatif, naik-turun drastis, dan belum benar-benar stabil. Faktanya, kemenangan Trump justru memicu gelombang impor besar-besaran di awal tahun. Banyak perusahaan AS buru-buru memborong barang dari luar negeri sebelum tarif baru benar-benar diterapkan. Setelah gelombang awal itu reda, defisit perdagangan memang mulai turun lagi. Tapi apakah ini tren yang berkelanjutan? Masih jadi tanda tanya besar.

Editor: Bayu Santoso

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar