Ini adalah penundaan pertama sejak lebih dari satu dekade lalu. Terakhir kali misi tahunan ini terganggu adalah di tahun 2012, ketika hubungan kedua negara membeku akibat sengketa pulau di Laut China Timur. Sejak 1975, kunjungan ini rutin dilakukan, hanya terpaksa berhenti saat pandemi dan saat ketegangan politik memuncak.
Di sisi lain, respons Beijing cukup tegas. Lewat juru bicara Kementerian Luar Negeri, Lin Jian, China kembali mengecam pernyataan Perdana Menteri Jepang, Sanae Takaichi, yang mereka sebut “keliru”. Dalam konferensi pers, Lin mendesak Jepang untuk menarik pernyataannya jika ingin pertukaran normal antara kedua negara bisa tercipta kembali.
Semua bermula awal November lalu. Saat itu, Takaichi menyatakan bahwa Jepang dapat menganggap invasi China ke Taiwan sebagai situasi darurat yang mengancam. Pernyataan itu, dalam hukum Jepang, bisa menjadi dasar untuk mengerahkan militer. Beijing, yang mengklaim Taiwan sebagai bagian dari wilayahnya, tentu saja murka. Bagi mereka, urusan Taiwan adalah garis merah yang tak boleh disentuh.
China pun menuntut pencabutan pernyataan itu. Tapi Takaichi bersikukuh, kebijakan Jepang tidak berubah dan komentarnya tak perlu ditarik. Alhasil, Beijing mulai main keras. Mereka membatasi impor makanan laut dan film dari Jepang. Tak cuma itu, pemerintah China juga mengimbau warganya untuk berpikir ulang jika ingin liburan ke Negeri Sakura. Dampaknya langsung terasa: pertumbuhan wisatawan melambat ke level terendah dalam empat tahun.
Padahal, fakta ekonominya tak bisa dipungkiri. China adalah mitra dagang terbesar Jepang. Perdagangan antara keduanya menyumbang sekitar 20 persen dari total perdagangan luar negeri Jepang di tahun 2024. Sampai saat ini, Beijing belum menggunakan komoditas kritis seperti rare earth sebagai senjata. Namun begitu, tekanan ekonomi jangka panjang dari China tetap menjadi ancaman serius yang bisa menggoyang perekonomian Jepang. Ketegangan ini, sayangnya, belum menunjukkan tanda-tanda akan mereda.
Artikel Terkait
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa: IHSG Bisa Tembus 10.000 Bahkan Lebih di 2026
Era Warren Buffett Berakhir, Greg Abel Resmi Pimpin Berkshire
Harga BBM Turun Serentak di Awal 2026, Pertamax hingga Shell Ikut Anjlok
Santap Pasar China, Santan Beku Bintan Tembus Rp5,7 Miliar