Menteri Pekerjaan Umum, Dody Hanggodo, punya target ambisius. Ia ingin sejumlah instalasi pengolahan air atau water treatment plant (WTP) di Aceh, wilayah yang baru saja dilanda banjir besar, bisa berdiri dalam tiga sampai empat bulan ke depan. Waktu yang cukup singkat, mengingat kerusakan yang terjadi cukup parah.
Krisis air bersih jadi masalah utama pasca-banjir. Bencana itu bukan cuma merendam permukiman, tapi juga mengubah wajah sungai-sungai. Pendangkalan dan pelebaran aliran terjadi secara masif, yang ujung-ujungnya bikin banyak WTP tak bisa beroperasi normal.
“Harapan kami dalam tempo 3 sampai 4 bulan ke depan, beberapa Water Treatment Plant yang berkapasitas sekitar 50 liter per detik bisa segera terbangun di beberapa titik,”
Demikian penjelasan Dody dalam Rapat Koordinasi Pemulihan Bencana Sumatera, Selasa lalu. Ia menyebut, banyak WTP yang lokasinya di tepian sungai kini tertimbun lumpur. Pidie Jaya adalah salah satu wilayah yang merasakan dampaknya.
Nah, upaya pemulihannya nggak cuma sekadar membangun yang baru. Kementerian PU juga turun tangan membersihkan sedimen dan tumpukan kayu di sejumlah bendungan. Ambil contoh Bendungan Jambu Aye dan Keureuto. Tujuannya jelas: agar aliran sungai kembali lancar dan WTP di sekitarnya bisa dihidupkan kembali.
Artikel Terkait
Bulog Pastikan Penyaluran 828 Ribu Ton Beras SPHP Berjalan Sepanjang 2026
DPR Dorong Elektrifikasi Transportasi dan Rumah Tangga untuk Tekan Ketergantungan Impor Energi
Pemerintah Turki Naikkan Tarif Listrik dan Gas Rata-Rata 25% Mulai 2026
Harga Emas Antam Stabil di Rp 2,857 Juta per Gram, PPN Dihapus