tegas Sandy.
Analisis mereka menunjukkan, negara tujuan ekspor menjadi celah terbesar. India, misalnya, sebagai mitra dagang utama, punya catatan buruk. Tingkat manipulasi ke sana terbilang paling tinggi.
ungkap Sandy.
Ada tiga pemicu utamanya: volume pengiriman yang sangat besar, fleksibilitas berlebihan soal kualitas dan kontrak, serta pengawasan yang lemah dari hulu ke hilir.
tambahnya.
Ambil contoh tahun 2008. Saat harga batu bara melonjak ke level USD 180-190 per ton, nilai under-invoicing diproyeksikan mencapai USD 4,9 miliar. Angka yang sungguh mencengangkan.
Masalah misinvoicing ini, ujar Sandy, akarnya rumit. Ia tidak muncul tiba-tiba di pelabuhan, tapi berawal dari ketidakberesan pencatatan di sepanjang rantai dari tambang, pengangkutan, hingga pelaporan. Situasi ini makin runyam karena data ekspor dari Kementerian ESDM dan BPS sering tak nyambung.
pungkas Sandy.
Jadi, bea keluar memang seperti pisau bermata dua. Di satu sisi, ia bisa mendatangkan pemasukan segar. Tapi di sisi lain, tanpa sistem yang rapat, ia bisa jadi sekadar aturan baru yang diakali dengan cara lama.
Artikel Terkait
BI Sebut Ruang Turunkan Suku Bunga Makin Sempit Imbas Gejolak Global
PT Asia Pramulia Beralih ke Impor Bahan Baku Akibat Konflik Timur Tengah
AISA Rencanakan Kuasi Reorganisasi untuk Hapus Akumulasi Kerugian Rp2,7 Triliun
Wall Street Melonjak Usai Gencatan Senjata AS-Iran-Israel, Harga Minyak Anjlok