Emas dan Perak Cetak Rekor Sejarah, Didorong Gejolak Global dan Dolar yang Tumbang

- Jumat, 26 Desember 2025 | 11:54 WIB
Emas dan Perak Cetak Rekor Sejarah, Didorong Gejolak Global dan Dolar yang Tumbang

Emas dan perak benar-benar meledak. Bukan cuma naik, tapi mencatatkan level yang belum pernah terjadi sebelumnya. Menurut data Bloomberg yang dirilis Jumat lalu, harga emas spot sempat menyentuh angka fantastis, USD 4.530 per troy ounce. Kenaikannya sekitar 1,2 persen.

Perak? Jangan ditanya. Logam ini juga meroket. Untuk hari kelima berturut-turut, harganya terus melesat dan bahkan tembus USD 75 per troy ounce suatu pencapaian baru. Lonjakannya cukup tajam, mencapai 4,6 persen.

Nah, apa penyebabnya? Untuk perak, ada dua hal utama. Pertama, aliran dana spekulatif yang deras. Kedua, pasokan yang masih bermasalah di beberapa pasar global. Ini seperti lanjutan dari 'short squeeze' bersejarah yang terjadi Oktober lalu.

Di sisi lain, pelemahan dolar AS memberi angin segar bagi reli ini. Indeks Bloomberg Dollar Spot anjlok 0,8 persen sepanjang pekan, penurunan mingguan terburuk sejak Juni. Ketika dolar melemah, aset seperti emas dan perak otomatis lebih murah dan menarik bagi investor luar negeri.

Geopolitik juga berperan besar menciptakan ketidakpastian. Dunia seperti sedang panas. AS baru-baru ini memblokade kapal tanker minyak Venezuela, memperketat tekanan terhadap pemerintahan Maduro.

Belum lagi konflik di Afrika yang makin memanas.

Presiden AS Donald Trump lewat unggahan media sosialnya menyebut, negaranya telah melancarkan "serangan yang dahsyat dan mematikan" terhadap kelompok teroris di Nigeria. Situasi seperti ini mendorong investor mencari aset safe haven, dan logam mulia adalah pilihan klasik.

Kalau dilihat sepanjang tahun, kinerja mereka luar biasa. Emas sudah naik sekitar 70 persen. Perak? Bahkan lebih gila, melesat lebih dari 150 persen. Keduanya berpeluang meraih tahun terbaik sejak 1979, hampir setengah abad yang lalu.

Reli ini tentu punya penopang. Bank-bank sentral membeli dengan agresif, dana mengalir deras ke ETF logam mulia, dan The Fed sudah tiga kali memangkas suku bunga. Suasana suku bunga rendah itu bagai pupuk bagi emas dan perak, yang memang tidak menawarkan bunga.

Dan pasar masih berharap akan ada pemotongan lagi di tahun 2026.

Jangan lupakan platinum. Logam ini ikut-ikutan cetak rekor, naik lebih dari 40 persen hanya dalam sebulan dan menembus USD 2.400. Level setinggi itu belum pernah terjadi sejak Bloomberg mulai mencatat data di tahun 1987. Pemicunya sederhana: permintaan fisik kuat, sementara pasokan global defisit karena gangguan produksi di Afrika Selatan.

Pada penutupan perdagangan terakhir, semua masih bersinar. Emas menguat 0,6% ke posisi USD 4.504,19. Perak naik 4% ke USD 74,73. Platinum melonjak 6,5% ke USD 2.403,17. Palladium juga ikut merangkak naik 4,5%.

Semuanya hijau. Semuanya mencetak sejarah.

Editor: Redaksi MuriaNetwork

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar