Giovanni Staunovo, analis UBS, memperingatkan risiko yang kian nyata.
“Dengan kapasitas penyimpanan yang kian menyusut, risiko Venezuela harus menutup sebagian produksi menjadi semakin besar,” katanya.
Aktivitas bongkar muat di pelabuhan Venezuela pun melambat drastis. Kebanyakan kapal sekarang cuma muter-muter memindahkan minyak antar pelabuhan dalam negeri saja. Belum lagi pernyataan AS yang mengisyaratkan akan menyita dan menjual minyak Venezuela yang tertangkap.
Gangguan pasokan tidak cuma datang dari Amerika Latin. Di belahan dunia lain, Rusia juga menambah ketegangan. Serangan ke pelabuhan Odesa di Ukraina pada Senin malam merusak fasilitas dan sebuah kapal. Ini serangan kedua dalam waktu kurang dari sehari. Balasannya, drone Ukraina juga dikabarkan merusak kapal dan dermaga di wilayah Krasnodar, Rusia. Perang yang menargetkan infrastruktur logistik maritim ini jelas bikin pasar tegang.
Dengan semua ketidakpastian ini, bagaimana prospek ke depan? Barclays dalam catatannya memperkirakan pasar minyak masih akan memiliki pasokan yang cukup untuk paruh pertama 2026. Tapi mereka juga memproyeksikan surplus pasokan akan menyusut signifikan menuju akhir tahun depan. Gangguan yang berlarut-larut berpotensi besar mengencangkan pasar lebih cepat dari perkiraan.
Terakhir, dari data persediaan AS, stok minyak mentah dilaporkan naik 2,39 juta barel pekan lalu. Stok bensin dan distilat juga bertambah. Data resmi dari EIA sendiri baru akan dirilis Senin depan, tertunda karena hari libur.
Artikel Terkait
Puncak Arus Balik Lebaran, Pertamina Siagakan Ribuan SPBU dan Layanan Darurat
Multivision Plus Gelar Rights Issue Rp280 Miliar untuk Ekspansi Bioskop dan Produksi
ABM Investama Fokus Optimalisasi Dua Tambang Andalan di Aceh dan Kalteng
Kemenhub Siaga Penuh Antisipasi Puncak Arus Balik 28-29 Maret 2026