Baca Juga: Alami Kenaikan Laba Bersih, Jumlah Utang PT J Resources Asia Pasifik Malah Semakin Membengkak
Akan tetapi, tak lama setelah smelter nikel ini dibangun, perusahaan asal Singapura tiba-tiba masuk dan mengambil alih.
Tentu pengambil alihan ini dilakukan secara legal, karena perusahaan Singapura tersebut kini memegang mayoritas sahamnya.
Perusahaan asal Singapura yang dimaksud adalah Taixin Pte.Ltd, yang kini memegang saham sebesar 51%.
Tindakan ini sebenarnya juga dilakukan agar dapat meningkatkan modal dasar baik saham di seri A ataupun seri B.
Apalagi investasi yang diperlukan dalam membangun pabrik pemurnian di Morowali ini juga tidaklah sedikit.
Dilansir murianetwork.com dari vale.com, anggaran yang diperlukan dalam membangun tempat pemurnian mineral ini yakni sebesar Rp37,5 triliun.
Artikel ini telah lebih dulu tayang di: innalar.com
Artikel Terkait
INET (Sinergi Inti Andalan Prima) Ekspansi ke Bisnis Perdagangan Peralatan Telekomunikasi
IHSG Naik 6,14%, Saham TRUK Melonjak Lebih dari 100%
Harga CPO Anjlok 6% dalam Seminggu, Pasar Khawatir Produksi Musiman Kalahkan Permintaan
Zyrex Dapat Kredit Rp178,8 Miliar dari Bank Permata untuk Ekspansi