Laporan Pekerjaan AS Picu Aksi Jual Besar-besaran di Wall Street

- Jumat, 21 November 2025 | 06:18 WIB
Laporan Pekerjaan AS Picu Aksi Jual Besar-besaran di Wall Street

Wall Street kembali bergejolak. Indeks saham utama Amerika Serikat ditutup dengan penurunan tajam pada Kamis kemarin, menyeret pasar ke wilayah merah yang dalam. Laporan ketenagakerjaan yang campur aduk ternyata berhasil meredam harapan investor soal pemotongan suku bunga Fed tahun ini.

Di sisi lain, kekhawatiran akan valuasi saham teknologi yang sudah melambung tinggi juga ikut menekan sentimen. Yang menarik, semua ini terjadi meskipun Nvidia raksasa chip AI baru saja melaporkan kinerja yang jauh melampaui perkiraan.

Thomas Martin, seorang manajer portofolio senior di GLOBALT, Atlanta, mencoba memberikan perspektif. "Laporannya memang bagus," ujarnya, "tapi pasar masih disibukkan oleh pertanyaan besar seputar inflasi, kondisi ketenagakerjaan, dan arah kebijakan Fed selanjutnya."

Rincian kerugiannya cukup signifikan. Dow Jones terpangkas 386,51 poin (0,84%) ke level 45.752,26. S&P 500 anjlok 1,56% atau 103,40 poin, berhenti di 6.538,76. Nasdaq Composite, yang penuh dengan saham teknologi, mengalami pukulan paling berat dengan penurunan 2,15% atau 486,18 poin, menjadi 22.078,05.

Tekanan terbesar memang datang dari saham-saham teknologi dan AI, membuat Nasdaq mengalami rentang perdagangan harian terlebar sejak pertengahan April. Pada saat yang bersamaan, imbal hasil obligasi AS melemah dan harga Bitcoin terjun bebas sebuah pertanda jelas bahwa minat terhadap aset berisiko sedang merosot.

Data ketenagakerjaan yang dirilis ternyata punya dua sisi. Di satu pihak, penambahan pekerjaan lebih banyak dari perkiraan. Namun di lain pihak, tingkat pengangguran justru naik dan klaim pengangguran berkelanjutan malah mencapai level tertinggi dalam hampir empat tahun. Situasinya jadi makin ruwet karena laporan ini dianggap kurang fresh, tertunda enam minggu akibat penutupan pemerintah federal. Akibatnya, Fed kemungkinan besar hanya akan mengandalkan satu laporan pekerjaan yang sudah basi untuk rapat kebijakan bulan depan.

Peluang untuk pemotongan suku bunga ketiga tahun ini pun merosot drastis, hanya tersisa sekitar 39,8%. Meski begitu, masih ada yang yakin Fed akan tetap memangkas suku bunga sebesar 25 basis poin. Ketegangan ini langsung terpantau jelas di Indeks VIX, yang melonjak ke level tertinggi sejak akhir April.

Pasar global pun ikut merasakan dampaknya. Saham Eropa sempat menguat berkat laporan Nvidia, tapi kemudian memangkas kenaikan itu begitu ketidakpastian soal kebijakan Fed kembali menghantui. Indeks MSCI dunia turun 0,92% ke 968,20.

Sementara itu, di pasar obligasi, imbal hasilnya turun tipis seiring investor yang mengevaluasi ulang prospek pelonggaran moneter. Imbal hasil obligasi 10-tahun AS turun jadi 4,1%. Obligasi 2-tahun, yang sangat sensitif terhadap ekspektasi suku bunga Fed, juga turun ke 3,554%.

Dolar AS justru menguat di tengah keributan ini, karena data pekerjaan yang kuat membuat ekspektasi pemotongan suku bunga meredup. Indeks dolar naik 0,16%.

Aset kripto tidak luput dari tekanan. Bitcoin dan Ethereum sama-sama terperosok lebih dari 4%.

Di pasar komoditas, harga minyak sempat terdongkrak oleh laporan penurunan stok minyak mentah AS yang lebih besar dari perkiraan. Sayangnya, momentum itu tidak bertahan lama. Minyak mentah AS akhirnya ditutup melemah 0,55% di angka $59,14 per barel.

Emas pun tak berkutik, sedikit melemah karena investor mencerna laporan pekerjaan yang tertunda itu. Harga emas spot turun tipis menjadi $4.078,15 per ons.

Editor: Melati Kusuma

Dilarang mengambil dan/atau menayangkan ulang sebagian atau keseluruhan artikel di atas untuk konten akun media sosial komersil tanpa seizin redaksi.

Komentar